Sabtu, 27 Agustus 2016

Bakal Sebar Rudal di Perbatasan, China Minta India Menahan Diri

 
 
Gunawan Laruhun
 
BEIJING - Ketegangan antara China dan India yang dipicu sengketa teritorial memasuki babak baru. India berencana melengkapi pasukannya yang berada di wilayah perbatasan dengan rudal BrahMos.

Menanggapi hal itu, Kementerian Pertahanan China meminta India untuk menahan diri dan menciptakan stabilitas. "Kami berharap pihak India dapat berbuat lebih banyak untuk perdamaian dan stabilitas di wilayah perbatasan. Menjaga perdamaian dan stabilitas di sepanjang perbatasan India-China adalah kesepakatan penting oleh kedua belah pihak," kata juru bicara Kementerian Pertahanan China Kolonel Wu Qian.

Wu Qian pun menyinggung soal komentar di salah satu media China yang menyatakan sentimen yang sama. "Berita ini telah memperoleh perhatian luas. Langkah India untuk mengerahkan rudal di perbatasan sudah melebihi kebutuhan pertahanan dan menimbulkan ancaman serius ke Tibet dan Yunan," kata Wu Qian seperti dikutip dari Sputniknews, Jumat (26/8/2016).

"Penyebaran rudal BrahMos memicu meningkatnya kompetisi dan antagonisme dalam hubungan China-India dan akan memiliki dampak negatif pada stabilitas kawasan," imbuhnya.

China dan India terlibat sengketa internasional dalam waktu yang lama di sepanjang perbatasan Tibet. China mengklaim wilayah seluas 35 ribu mil persegi, sedangkan India menyatakan China telah menempati 14.600 mil persegi wilayahnya.
 

Rabu, 24 Agustus 2016

Sejarah Lepasnya Timor Timur Yang tak Pernah Terungkap (MENETESLAH AIR MATA INI)

MENIT-MENIT LEPASNYA TIMOR-TIMUR DARI INDONESIA


Berikut ini adalah tulisan seorang wartawan yang meliput jajak pendapat di Dili, Timor-timur. Tulisan berikut ini sungguh luar biasa, namun sekaligus membuat dada sesak.

Ditulis oleh Kafil Yamin, wartawan kantor berita The IPS Asia-Pacific, Bangkok, yang dikirim ke Timor Timur pada tanggal 28 Agustus 1999 untuk meliput ‘Jajak Pendapat Timor-Timur’ yang diselenggarakan UNAMET [United Nations Mission in East Timor], 30 Agustus 1999. Judul asli dari tulisan ini adalah Menit-Menit yang Luput dari Catatan Sejarah Indonesia. Saya sengaja ubah judulnya dengan maksud agar lebih jelas mengenai apa yang terkandung dalam tulisan tersebut.

MENIT-MENIT YANG LUPUT DARI CATATAN SEJARAH INDONESIA
Jajak pendapat itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah referendum, adalah buah dari berbagai tekanan internasioal kepada Indonesia yang sudah timbul sejak keruntuhan Uni Soviet tahun 1989. Belakangan tekanan itu makin menguat dan menyusahkan Indonesia. Ketika krisis moneter menghantam negara-negara Asia Tenggara selama tahun 1997-1999, Indonesia terkena. Guncangan ekonomi sedemikian hebat; berimbas pada stabilitas politik; dan terjadilah jajak pendapat itu.

Kebangkrutan ekonomi Indonesia dimanfaatkan oleh pihak Barat, melalui IMF dan Bank Dunia, untuk menekan Indonesia supaya melepas Timor Timur. IMF dan Bank Dunia bersedia membantu Indonesia lewat paket yang disebut bailout, sebesar US$43 milyar, asal Indonesia melepas Timtim.

Apa artinya ini? Artinya keputusan sudah dibuat sebelum jajak pendapat itu dilaksanakan. Artinya bahwa jajak pendapat itu sekedar formalitas. Namun meski itu formalitas, toh keadaan di kota Dili sejak menjelang pelaksanan jajak pendapat itu sudah ramai nian. Panita jajak pendapat didominasi bule Australia dan Portugis. Wartawan asing berdatangan. Para pegiat LSM pemantau jajak pendapat, lokal dan asing, menyemarakkan pula – untuk sebuah sandiwara besar. Hebat bukan?

Sekitar Jam 1 siang, tanggal 28 Agustus 1999, saya mendarat di Dili. Matahari mengangkang di tengah langit. Begitu menyimpan barang-barang di penginapan [kalau tidak salah, nama penginapannya Dahlia, milik orang Makassar], saya keliling kota Dili. Siapapun yang berada di sana ketika itu, akan berkesimpulan sama dengan saya: kota Dili didominasi kaum pro-integrasi. Mencari orang Timtim yang pro-kemerdekaan untuk saya wawancarai, tak semudah mencari orang yang pro-integrasi.

Penasaran, saya pun keluyuran keluar kota Dili, sampai ke Ainaro dan Liquica, sekitar 60 km dari Dili. Kesannya sama: lebih banyak orang-orang pro-integrasi. Di banyak tempat, banyak para pemuda-pemudi Timtim mengenakan kaos bertuliskan Mahidi [Mati-Hidup Demi Integrasi], Gadapaksi [Garda Muda Penegak Integrasi], BMP [Besi Merah Putih], Aitarak [Duri].

Setelah seharian berkeliling, saya berkesimpulan Timor Timur akan tetap bersama Indonesia. Bukan hanya dalam potensi suara, tapi dalam hal budaya, ekonomi, sosial, tidak mudah membayangkan Timor Timur bisa benar-benar terpisah dari Indonesia. Semua orang Timtim kebanyakan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Para penyedia barang-barang kebutuhan di pasar-pasar adalah orang Indonesia. Banyak pemuda-pemudi Timtim yang belajar di sekolah dan universitas Indonesia, hampir semuanya dibiayai pemerintah Indonesia. Guru-guru di sekolah-sekolah Timtim pun kebanyakan orang Indonesia, demikian juga para petugas kesehatan, dokter, mantri.

Selepas magrib, 28 Agustus 1999, setelah mandi dan makan, saya duduk di lobi penginapan, minum kopi dan merokok. Tak lama kemudian, seorang lelaki berusia 50an, tapi masih terlihat gagah, berambut gondrong, berbadan atletis, berjalan ke arah tempat duduk saya; duduk dekat saya dan mengeluarkan rokok. Rupanya ia pun hendak menikmati rokok dan kopi.

Mungkin karena dipersatukan oleh kedua barang beracun itu, kami cepat akrab. Dia menyapa duluan: “Dari mana?” sapanya.

“Dari Jakarta,” jawabku, sekalian menjelaskan bahwa saya wartawan, hendak meliput jajak pendapat.

Entah kenapa, masing-masing kami cepat larut dalam obrolan. Dia tak ragu mengungkapkan dirinya. Dia adalah mantan panglima pasukan pro-integrasi, yang tak pernah surut semangatnya memerangi Fretilin [organisasi pro-kemerdekaan], “karena bersama Portugis, mereka membantai keluarga saya,” katanya. Suaranya dalam, dengan tekanan emosi yg terkendali. Terkesan kuat dia lelaki matang yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Tebaran uban di rambut gondrongnya menguatkan kesan kematangan itu.
“Panggil saja saya Laffae,” katanya.

“Itu nama Timor atau Portugis?” Saya penasaran.

“Timor. Itu julukan dari kawan maupun lawan. Artinya ‘buaya’,” jelasnya lagi.

Julukan itu muncul karena sebagai komandan milisi, dia dan pasukannya sering tak terdeteksi lawan. Setelah lawan merasa aman, tiba-tiba dia bisa muncul di tengah pasukan lawannya dan melahap semua yang ada di situ. Nah, menurut anak buah maupun musuhnya, keahlian seperti itu dimiliki buaya.


Dia pun bercerita bahwa dia lebih banyak hidup di hutan, tapi telah mendidik, melatih banyak orang dalam berpolitik dan berorganisasi. “Banyak binaan saya yang sudah jadi pejabat,” katanya. Dia pun menyebut sejumlah nama tokoh dan pejabat militer Indonesia yang sering berhubungan dengannya.

Rupanya dia seorang tokoh. Memang, dilihat dari tongkrongannya, tampak sekali dia seorang petempur senior. Saya teringat tokoh pejuang Kuba, Che Guevara. Hanya saja ukuran badannya lebih kecil.

“Kalau dengan Eurico Guterres? Sering berhubungan?” saya penasaran.

“Dia keponakan saya,” jawab Laffae. “Kalau ketemu, salam saja dari saya.”

Cukup lama kami mengobrol. Dia menguasai betul sejarah dan politik Timtim dan saya sangat menikmatinya. Obrolan usai karena kantuk kian menyerang.

Orang ini menancapkan kesan kuat dalam diri saya. Sebagai wartawan, saya telah bertemu, berbicara dengan banyak orang, dari pedagang kaki lima sampai menteri, dari germo sampai kyai, kebanyakan sudah lupa. Tapi orang ini, sampai sekarang, saya masih ingat jelas.

Sambil berjalan menuju kamar, pikiran bertanya-tanya: kalau dia seorang tokoh, kenapa saya tak pernah mendengar namanya dan melihatnya? Seperti saya mengenal Eurico Gueterres, Taur Matan Ruak? Xanana Gusmao? Dan lain-lain? Tapi sudahlah.

Pagi tanggal 29 Agustus 1999. Saya keluar penginapan hendak memantau situasi. Hari itu saya harus kirim laporan ke Bangkok. Namun sebelum keliling saya mencari rumah makan untuk sarapan. Kebetulan lewat satu rumah makan yang cukup nyaman. Segera saya masuk dan duduk. Eh, di meja sana saya melihat Laffae sedang dikelilingi 4-5 orang, semuanya berseragam Pemda setempat. Saya tambah yakin dia memang orang penting – tapi misterius.

Setelah bubar, saya tanya Laffae siapa orang-orang itu. “Yang satu Bupati Los Palos, yang satu Bupati Ainaro, yang dua lagi pejabat kejaksaan,” katanya. “Mereka minta nasihat saya soal keadaan sekarang ini,” tambahnya.

Kalau kita ketemu Laffae di jalan, kita akan melihatnya ‘bukan siapa-siapa’. Pakaiannya sangat sederhana. Rambutnya terurai tak terurus. Dan kalau kita belum ‘masuk’, dia nampak pendiam.

Saya lanjut keliling. Kota Dili makin semarak oleh kesibukan orang-orang asing. Terlihat polisi dan tentara UNAMET berjaga-jaga di setiap sudut kota. Saya pun mulai sibuk, sedikitnya ada tiga konferensi pers di tempat yang berbeda. Belum lagi kejadian-kejadian tertentu. Seorang teman wartawan dari majalah Tempo, Prabandari, selalu memberi tahu saya peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Dari berbagai peristiwa itu, yang menonjol adalah laporan dan kejadian tentang kecurangan panitia penyelenggara, yaitu UNAMET. Yang paling banyak dikeluhkan adalah bahwa UNAMET hanya merekrut orang-orang pro-kemerdekaan di kepanitiaan. Klaim ini terbukti. Saya mengunjungi hampir semua TPS terdekat, tidak ada orang pro-integrasi yang dilibatkan.

Yang bikin suasana panas di kota yang sudah panas itu adalah sikap polisi-polisi UNAMET yang tidak mengizinkan pemantau dan pengawas dari kaum pro-integrasi, bahkan untuk sekedar mendekat. Paling dekat dari jarak 200 meter. Tapi pemantau-pemantau bule bisa masuk ke sektratriat. Bahkan ikut mengetik!

Di sini saya perlu mengungkapkan ukuran mental orang-orang LSM dari Indonesia, yang kebanyakan mendukung kemerdekaan Timtim karena didanai asing. Mereka tak berani mendekat ke TPS dan sekretariat, baru ditunjuk polisi UNAMET saja langsung mundur. Tapi kepada pejabat-pejabat Indonesia mereka sangat galak: menuding, menuduh, menghujat. Berani melawan polisi. Di hadapan polisi bule mereka mendadak jadi inlander betulan.

Tambah kisruh adalah banyak orang-orang pro-integrasi tak terdaftar sebagai pemilih. Dari 4 konferensi pers, 3 di antaranya adalah tentang ungkapan soal ini. Bahkan anak-anak Mahidi mengangkut segerombolan orang tua yang ditolak mendaftar pemilih karena dikenal sebagai pendukung integrasi.

Saya pun harus mengungkapkan ukuran mental wartawan-wartawan Indonesia di sini. Siang menjelang sore, UNAMET menyelenggarakan konferensi pers di Dili tentang rencana penyelenggaraan jajak pendapat besok. Saya tentu hadir. Lebih banyak wartawan asing daripada wartawan Indonesia. Saya yakin wartawan-wartawan Indonesia tahu kecurangan-kecurangan itu.

Saat tanya jawab, tidak ada wartawan Indonesia mempertanyakan soal praktik tidak fair itu. Bahkan sekedar bertanya pun tidak. Hanya saya yang bertanya tentang itu. Jawabannya tidak jelas. Pertanyaan didominasi wartawan-wartawan bule.

Tapi saya ingat betapa galaknya wartawan-wartawan Indonesia kalau mewawancarai pejabat Indonesia terkait dengan HAM atau praktik-praktik kecurangan. Hambatan bahasa tidak bisa jadi alasan karena cukup banyak wartawan Indonesia yang bisa bahasa Inggris. Saya kira sebab utamanya rendah diri, seperti sikap para aktifis LSM lokal tadi.

Setelah konferensi pers usai, sekitar 2 jam saya habiskan untuk menulis laporan. Isi utamanya tentang praktik-praktik kecurangan itu. Selain wawancara, saya juga melengkapinya dengan pemantauan langsung.

Kira-kira 2 jam setelah saya kirim, editor di Bangkok menelepon. Saya masih ingat persis dialognya:

“Kafil, we can’t run the story,” katanya.

“What do you mean? You send me here. I do the job, and you don’t run the story?” saya berreaksi.

“We can’t say the UNAMET is cheating…” katanya.

“That’s what I saw. That’s the fact. You want me to lie?” saya agak emosi.

“Do they [pro-integrasi] say all this thing because they know they are going to loose?”

“Well, that’s your interpretation. I’ll make it simple. I wrote what I had to and it’s up to you,”

“I think we still can run the story but we should change it.”

“ I leave it to you,” saya menutup pembicaraan.

Saya merasa tak nyaman. Namun saya kemudian bisa maklum karena teringat bahwa IPS Asia-Pacific itu antara lain didanai PBB.

***

Kira-kira jam 5:30 sore, 29 Agustus 199, saya tiba di penginapan. Lagi-lagi, Laffae sedang dikerumuni tokoh-tokoh pro-integrasi Timtim. Terlihat Armindo Soares, Basilio Araujo, Hermenio da Costa, Nemecio Lopes de Carvalho, nampaknya mereka sedang membicarakan berbagai kecurangan UNAMET.

Makin malam, makin banyak orang berdatangan. Orang-orang tua, orang-orang muda, tampaknya dari tempat jauh di luar kota Dili. Kelihatan sekali mereka baru menempuh perjalanan jauh.

Seorang perempuan muda, cukup manis, tampaknya aktifis organisasi, terlihat sibuk mengatur rombongan itu. Saya tanya dia siapa orang-orang ini.

“Mereka saya bawa ke sini karena di desanya tidak terdaftar,” katanya. “Mereka mau saya ajak ke sini. Bahkan mereka sendiri ingin. Agar bisa memilih di sini. Tidak ada yang membiayai. Demi merah putih,” jawabnya bersemangat.

Saya tergetar mendengar bagian kalimat itu: “…demi merah putih.”

Mereka semua ngobrol sampai larut. Saya tak tahan. Masuk kamar. Tidur. Besok jajak pendapat.

Pagi 30 Agustus 1999. Saya keliling Dili ke tempat-tempat pemungutan suara. Di tiap TPS, para pemilih antri berjajar. Saya bisa berdiri dekat dengan antrean-antrean itu. Para ‘pemantau’ tak berani mendekat karena diusir polisi UNAMET.

Karena dekat, saya bisa melihat dan mendengar bule-bule Australia yang sepertinya sedang mengatur barisan padahal sedang kampanye kasar. Kebetulan mereka bisa bahasa Indonesia: “Ingat, pilih kemerdekaan ya!” teriak seorang cewek bule kepada sekelompok orang tua yang sedang antre. Bule-bule yang lain juga melakukan hal yang sama.

Sejenak saya heran dengan kelakuan mereka. Yang sering mengampanyekan kejujuran, hak menentukan nasib sendiri. Munafik, pikir saya. Mereka cukup tak tahu malu.

Setelah memantau 4-5 TPS saya segera mencari tempat untuk menulis. Saya harus kirim laporan. Setelah mengirim laporan. Saya manfaat waktu untuk rileks, mencari tempat yang nyaman, melonggarkan otot. Toh kerja hari itu sudah selesai.
Patung dan semua fasilitasnya ini dibangun pemerintah Indonesia. Pasti dengan biaya sangat mahal. Ya, itulah biaya politik.

Tak terasa hari mulai redup. Saya harus pulang. Besok pengumuman hasil jajak pendapat.

Selepas magrib, 30 September 1999. Kembali saya menunaikan kewajiban yang diperintahkan oleh kebiasaan buruk: merokok sambil minum kopi di lobi penginapan. Kali ini, Laffae mendahului saya. Dia sudah duluan mengepulkan baris demi baris asap dari hidung dan mulutnya. Kami ngobrol lagi.

Tapi kali ini saya tidak leluasa. Karena banyak tamu yang menemui Laffae, kebanyakan pentolan-pentolan milisi pro-integrasi. Ditambah penginapan kian sesak. Beberapa pemantau nginap di situ. Ada juga polisi UNAMET perwakilan dari Pakistan.



Ada seorang perempuan keluar kamar, melihat dengan pandangan ‘meminta’ ke arah saya dan Laffae. Kami tidak mengerti maksudnya. Baru tau setelah lelaki pendampingnya bilang dia tak kuat asap rokok. Laffae lantas bilang ke orang itu kenapa dia jadi pemantau kalau tak kuat asap rokok. Kami berdua terus melanjutkan kewajiban dengan racun itu. Beberapa menit kemudian cewek itu pingsan dan dibawa ke klinik terdekat.

Saya masuk kamar lebih cepat. Tidur.


Pagi, 4 September 1999. Pengumuman hasil jajak pendapat di hotel Turismo Dili. Bagi saya, hasilnya sangat mengagetkan: 344.508 suara untuk kemerdekaan, 94.388 untuk integrasi, atau 78,5persen berbanding 21,5persen.

Ketua panitia mengumumkan hasil ini dengan penuh senyum, seakan baru dapat rezeki nomplok. Tak banyak tanya jawab setelah itu. Saya pun segera berlari mencari tempat untuk menulis laporan. Setelah selesai, saya balik ke penginapan.

Di lobi, Laffae sedang menonton teve yang menyiarkan hasil jajak pendapat. Sendirian. Saat saya mendekat, wajahnya berurai air mata. “Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Mereka curang..” katanya tersedu. Dia merangkul saya. Lelaki pejuang, tegar, matang ini mendadak luluh. Saya tak punya kata apapun untuk menghiburnya. Lagi pula, mata saya saya malah berkaca-kaca, terharu membayangkan apa yang dirasakan lelaki ini. Perjuangan keras sepanjang hidupnya berakhir dengan kekalahan.

Saya hanya bisa diam. Dan Laffae pun nampaknya tak mau kesedihannya terlihat orang lain. Setelah beberapa jenak ia berhasil bersikap normal.

“Kota Dili ini akan kosong..” katanya. Pelan tapi dalam. “Setelah kosong, UNAMET mau apa.”

Telepon berbunyi, dari Prabandari Tempo. Dia memberi tahu semua wartawan Indonesia segera dievakuasi pakai pesawat militer Hercules, karena akan ada penyisiran terhadap semua wartawan Indonesia. Saya diminta segera ke bandara saat itu juga. Kalau tidak, militer tidak bertanggung jawab. Semua wartawan Indonesia sudah berkumpul di bandara, tinggal saya. Hanya butuh lima menit bagi saya untuk memutuskan tidak ikut. “Saya bertahan, nDari. Tinggalkan saja saya.”

Laffae menguping pembicaraan. Dia menimpali: “Kenapa wartawan kesini kalau ada kejadian malah lari?” katanya. Saya kira lebih benar dia mikirnya.

Saya lantas keluar, melakukan berbagai wawancara, menghadiri konferensi pers, kebanyakan tentang kemarahan atas kecurangan UNAMET. “Anggota Mahidi saja ada 50 ribu; belum Gardapaksi, belum BMP, belum Halilintar, belum masyarakat yang tak ikut organisasi,” kata Nemecio Lopez, komandan milisi Mahidi.

Kembali ke penginapan sore, Laffae sedang menghadapi tamu 4-5 orang pentolan pro-integrasi. Dia menengok ke arah saya: “Kafil! Mari sini,” mengajak saya bergabung.

“Sebentar!” saya bersemangat. Saya tak boleh lewatkan ini. Setelah menyimpan barang-barang di kamar, mandi kilat. Saya bergabung. Di situ saya hanya mendengarkan. Ya, hanya mendengarkan.

“Paling-paling kita bisa siapkan seribuan orang,” kata ketua Armindo Soares, saya bertemu dengannya berkali-kali selama peliputan.

“Saya perlu lima ribu,” kata Laffae.

“Ya, lima ribu baru cukup untuk mengguncangkan kota Dili,” katanya, sambil menengok ke arah saya.

“Kita akan usahakan,” kata Armindo.

Saya belum bisa menangkap jelas pembicaraan mereka ketika seorang kawan memberitahu ada konferensi pers di kediaman Gubernur Abilio Soares. Saya segera siap-siap berangkat ke sana. Sekitar jam 7 malam, saya sampai di rumah Gubernur. Rupanya ada perjamuan. Cukup banyak tamu. Soares berbicara kepada wartawan tentang penolakannya terhadap hasil jajak pendapat karena berbagai kecurangan yang tidak bisa dimaklumi.

Setelah ikut makan enak, saya pulang ke penginapan sekitar jam 8:30 malam. Sudah rindu bersantai dengan Laffae sambil ditemani nikotin dan kafein. Tapi Laffae tidak ada. Anehnya, penginapan jadi agak sepi. Para pemantau sudah check-out, juga polisi-polisi UNAMET dari Pakistan itu. Tak banyak yang bisa dilakukan kecuali tidur.

Namun saat rebah, kantuk susah datang karena terdengar suara-suara tembakan. Mula-mula terdengar jauh. Tapi makin lama makin terdengar lebih dekat dan frekuensi tembakannya lebih sering. Mungkin karena perut kenyang dan badan capek, saya tertidur juga.

Tanggal 5 September pagi, sekitar jam 09:00, saya keluar penginapan. Kota Dili jauh lebi lengang. Hanya terlihat kendaran-kendaraan UNAMET melintas di jalan. Tak ada lagi kendaraan umum. Tapi saya harus keluar. Apa boleh buat – jalan kaki. Makin jauh berjalan makin sepi, tapi tembakan nyaris terdengar dari segala arah. Sesiang ini, Dili sudah mencekam.

Tidak ada warung atau toko buka. Perut sudah menagih keras. Apa boleh buat saya berjalan menuju hotel Turismo, hanya di hotel besar ada makanan. Tapi segera setelah itu saya kembali ke penginapan. Tidak banyak yang bisa dikerjakan hari itu.

Selepas magrib 5 Setember 1999. Saya sendirian di penginapan. Lapar. Tidak ada makanan. Dili sudah seratus persen mencekam. Bunyi tembakan tak henti-henti. Terdorong rasa lapar yang sangat, saya keluar penginapan.

Selain mencekam. Gelap pula. Hanya di tempat-tempat tertentu lampu menyala. Baru kira-kira 20 meter berjalan, gelegar tembakan dari arah kanan. Berhenti. Jalan lagi. Tembakan lagi dari arah kiri. Tiap berhenti ada tarikan dua arah dari dalam diri: kembali atau terus. Entah kenapa, saya selalu memilih terus, karena untuk balik sudah terlanjur jauh. Saya berjalan sendirian; dalam gelap; ditaburi bunyi tembakan. Hati dipenuhi adonan tiga unsur: lapar, takut, dan perjuangan menundukkan rasa takut. Lagi pula, saya tak tau ke arah mana saya berjalan. Kepalang basah, pokoknya jalan terus.

Sekitar jam 11 malam, tanpa disengaja, kaki sampai di pelabuhan Dili. Lumayan terang oleh lampu pelabuhan. Segera rasa takut hilang karena di sana banyak sekali orang. Mereka duduk, bergeletak di atas aspal atau tanah pelabuhan. Rupanya, mereka hendak mengungsi via kapal laut.

Banyak di antara mereka yang sedang makan nasi bungkus bersama. Dalam suasa begini, malu dan segan saya buang ke tengah laut. Saya minta makan! “Ikut makan ya?” kata saya kepada serombongan keluarga yang sedang makan bersama. “Silahkan bang!.. silahkan!..” si bapak tampak senang. Tunggu apa lagi, segera saya ambil nasinya, sambar ikannya. Cepat sekali saya makan. Kenyang sudah, sehingga ada tenaga untuk kurang ajar lebih jauh: sekalian minta rokok ke bapak itu. Dikasih juga.

Sekitar jam 3 malam saya berhasil kembali ke penginapan.

Pagi menjelang siang, tanggal 6 September 1999. Saya hanya duduk di lobi penginapan karena tidak ada kendaraan. Tidak ada warung dan toko yang buka. Yang ada hanya tembakan tak henti-henti. Dili tak berpenghuni – kecuali para petugas UNAMET. Nyaris semua penduduk Dili mengungsi, sebagian via kapal, sebagian via darat ke Atambua. Orang-orang pro-kemerdekaan berlarian diserang kaum pro-integrasi. Markas dan sekretariat dibakar. Darah tumpah lagi entah untuk keberapa kalinya.

Sekarang, saya jadi teringat kata-kata Laffae sehabis menyaksikan pengumuman hasil jajak pedapat kemarin: “Dili ini akan kosong..”

Saya pun teringat kata-kata dia: “Saya perlu lima ribu orang untuk mengguncang kota Dili..” Ya, sekarang saya berkesimpulan ini aksi dia. Aksi pejuang pro-integrasi yang merasa kehilangan masa depan. Ya, hanya saya yang tahu siapa tokoh utama aksi bumi hangus ini, sementara teve-teve hanya memberitakan penyerangan mililis pro-integrasi terhadap kaum pro-kemerdekaan.



Tentu, orang-orang pro-integrasi pun mengungsi. Laffae dan pasukannya ingin semua orang Timtim bernasib sama: kalau ada satu pihak yang tak mendapat tempat di bumi Loro Sae, maka semua orang timtim harus keluar dari sana. Itu pernah diucapkannya kepada saya.

Inilah hasil langsung jajak pendapat yang dipaksakan harus dimenangkan. Hukum perhubungan antar manusia saat itu sepasti hukum kimia: tindakan lancung dan curang pasti berbuah bencana.



***

Saya harus pulang, karena tidak banyak yang bisa dilihat dan ditemui. Untung masih ada omprengan yang mau mengantara ke bandara. Sekitar jam 11 pagi saya sampai di pelabuhan udara Komoro. Keadaan di bandara sedang darurat. Semua orang panik. Semua orang ingin mendapat tiket dan tempat duduk pada jam penerbangan yang sama. Karena hura-hara sudah mendekati bandara. Lagi pula penerbangan jam itu adalah yang satu-satunya dan terakhir.

Bule-bule yang biasanya tertib kini saling sikut, saling dorong sampai ke depan komputer penjaga kounter. Ada bule yang stres saking tegangnya sampai-sampai minta rokok kepada saya yg berdiri di belakang tenang-tenang saja. Beginilah nikmatnya jadi orang beriman.

Banyak yang tidak kebagian tiket. Entah kenapa saya lancar-lancar saja. Masuk ke ruangan tunggu, di situ sudah ada Eurico Gutteres. Saya hampiri dia, saya bilang saya banyak bicara dengan Laffae dan dia menyampaikan salam untuknya. Eurico memandang saya agak lama, pasti karena saya menyebut nama Laffae itu.


Sore, 7 Novembe3, 1999, saya mendarat di Jakarta.

Penduduk Timtim mengungsi ke Atambua, NTT. Sungguh tidak mudah mereka mengungsi. Polisi UNAMET berusaha mencegah setiap bentuk pengungsian ke luar Dili. Namun hanya sedikit yang bisa mereka tahan di Dili.

Di kamp-kamp pengungsian Atambua, keadaan sungguh memiriskan hati. Orang-orang tua duduk mecakung; anak-anak muda gelisah ditelikung rasa takut; sebagian digerayangi rasa marah dan dendam; anak-anak diliputi kecemasan. Mereka adalah yang memilih hidup bersama Indonesia. Dan pilihan itu mengharuskan mereka terpisah dari keluarga.
Pemerintah negara yang mereka pilih sebagai tumpuan hidup, jauh dari menyantuni mereka. Kaum milisi pro-integrasi dikejar-kejar tuntutan hukum atas ‘kejahatan terhadap kemanusiaan’, dan Indonesia, boro-boro membela mereka, malah ikut mengejar-ngejar orang Timtim yang memilih merah putih itu. Eurico Guterres dan Abilio Soares diadili dan dihukum di negara yang dicintai dan dibelanya.

Jendral-jendral yang dulu menikmati kekuasaan di Timtim, sekarang pada sembunyi. Tak ada yang punya cukup nyali untuk bersikap tegas, misalnya: “Kami melindungi rakyat Timtim yang memilih bergabung dengan Indonesia.” Padahal, mereka yang selalu mengajarkan berkorban untuk negara; menjadi tumbal untuk kehormatan pertiwi, dengan nyawa sekalipun.



Sementara itu, para pengungsi ditelantarkan. Tak ada solidaritas kebangsaan yang ditunjukkan pemerintah dan militer Indonesia.

Inilah tragedi kemanusiaan. Melihat begini, jargon-jargon negara-negara Barat, media asing, tentang ‘self determination’, tak lebih dari sekedar ironi pahit. Sikap negara-negara Barat dan para aktifis kemanusiaan internasional yang merasa memperjuangkan rakyat Timtim jadi terlihat absurd. Sebab waktu telah membuktikan bahwa yang mereka perjuangkan tak lebih tak kurang adalah sumberdaya alam Timtim, terutama minyak bumi, yang kini mereka hisap habis-habisan.



Pernah Laffae menelepon saya dari Jakarta, kira-kira 3 bulan setelah malapetaka itu. Ketika itu saya tinggal di Bandung. Dia bilang ingin ketemu saya dan akan datang ke Bandung. Saya sangat senang. Tapi dia tak pernah datang..saya tidak tahu sebabnya. Mudah-mudahan dia baik-baik saja.



***

12 TAHUN BERALU SUDAH. APA KABAR BAILOUT IMF YANG 43 MILYAR DOLAR ITU? SAMPAI DETIK INI, UANG ITU ENTAH DI MANA. ADA BEBERAPA PERCIK DICAIRKAN TAHUN 1999-2000, TAK SAMPAI SEPEREMPATNYA. DAN TIDAK MENOLONG APA-APA. YANG TERBUKTI BUKAN MENCAIRKAN DANA YANG DIJANJIKAN, TAPI MEMINTA PEMERINTAH INDONESIA SUPAYA MENCABUT SUBSIDI BBM, SUBSIDI PANGAN, SUBSIDI LISTRIK, YANG MEMBUAT RAKYAT INDONESIA TAMBAH MISKIN DAN SENGSARA. ANEHNYA, SEMUA SARANNYA ITU DITURUT OLEH PEMERINTAH RENDAH DIRI BIN INLANDER INI.



Yang paling dibutuhkan adalah menutupi defisit anggaran. Untuk itulah dana pinjaman [bukan bantuan] diperlukan. Namun IMF mengatasi defisit angaran dengan akal bulus: mencabut semua subsidi untuk kebutuhan rakyat sehingga defisit tertutupi, sehingga duit dia tetap utuh. Perkara rakyat ngamuk dan makin sengsara, peduli amat.



Melengkapi akal bulusnya itu IMF meminta pemerintah Indonesia menswastakan semua perusahaan negara, seperti Bank Niaga, BCA, Telkom, Indosat.

Pernah IMF mengeluarkan dana cadangan sebesar 9 milyar dolar. Tapi, seperti dikeluhkan Menteri Ekonomi Kwik Kian Gie ketika itu, seperak pun dana itu tidak bisa dipakai karena hanya berfungsi sebagai pengaman. Apa bedanya dengan dana fiktif?

Lagi pula, kenapa ketika itu pemerintah Indonesia seperti tak punya cadangan otak, yang paling sederhana sekalipun.


KENAPA MAU MELEPAS TIMTIM DENGAN IMBALAN UTANG? BUKANKAN SEMESTINYA KOMPENSASI? ADAKAH DI DUNIA INI ORANG YANG HARTANYA DI BELI DENGAN UTANG? NIH SAYA BAYAR BARANGMU. BARANGMU SAYA AMBIL, TAPI KAU HARUS TETAP MENGEMBALIKAN UANG ITU. BUKANKAH INI SAMA PERSIS DENGAN MEMBERI GRATIS? DAN DALAM KASUS INI, YANG DIKASIH ADALAH NEGARA? YA, INDONESIA MEMBERI NEGARA KEPADA IMF SECARA CUMA-CUMA.


Kalau saya jadi wakil pemerintah Indonesia waktu itu, saya akan menawarkan ‘deal’ yang paling masuk akal: “Baik, Timor Timur kami lepas tanpa syarat. Ganti saja dana yang sudah kami keluarkan untuk membangun Timtim selama 24 tahun.” Dengan demikian, tidak ada utang piutang.


SAMPAI HARI INI INDONESIA MASIH MENYICIL UTANG KEPADA IMF, UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH IA DAPATKAN. SAYA HARAP GENERASI MUDA INDONESIA TIDAK SEBODOH PARA PEMIMPIN SEKARANG.

China dan Amerika Diambang Perang Nuklir, Berikut Sedikit Gambaran Tentang Kekuatan Militer China di Semua Lini


Tentara Pembebasan Rakyat telah berkembang dengan cepat menjadi salah satu militer yang paling kuat di dunia dan memiliki hingga 10.000 hulu ledak nuklir di gudangnya. Global Times, surat kabar milik pemerintah mengungkapkan berbagai perkembangan di sejumlah bagian dari militer China.
Global Times mencatat teknologi militer China telah berkembang cepat sejak pergantian abad, menjadi negara dengan anggaran pertahanan tertinggi kedua di dunia di belakang Amerika Serikat sementara tetap mempertahankan tentara terbesar di dunia dalam jumlah personel. 
Pada 2013, China merilis jumlah personel PLA untuk pertama kalinya, mengklaim bahwa negara itu memiliki total 1.483.000 tentara, termasuk 850.000 di Angkatan Darat, 235.000 di Angkatan Laut, dan 398.000 di Angkatan Udara PLA. Sementara Departemen Pertahanan AS memperkirakan pada tahun yang sama bahwa PLA Angkatan Darat sendiri memiliki 1,25 juta orang. Dan berikut perkembangan milter China di berbagai matra yang dilaporkan Global Times. 

1. PLA Angkatan Darat 
Para ahli memperkirakan bahwa Angkatan Darat memiliki 18 korps seukuran Grup dengan 7.000 tank modern, 8.000 artileri. Jika senjata tua tetapi masih operasional dimasukkan dalam hitungan Angkatan Darat diperkirakan memiliki total 9,000-12,000 tank, hampir 12.000 kendaraan infanteri dan kendaraan lapis baja, lebih dari 2.000 jenis artileri self-propelled, hampir 3.000 roket, lebih dari 7.000 sistem anti-tank rudal, 15.000 senjata anti-pesawat dan sistem rudal, dan sekitar 6.000 artileri dan 10.000 mortir. 
Sementara beberapa peralatan telah menjalani program modernisasi sejak awal abad ini. Sekarang mereka memiliki hampir 1.000 tank tempur utama Jenis-99, yang dapat melawan tank dari negara-negara maju, dan persenjataan yang dilengkapi berbagai self-propelled artillery and rockets, termasuk yang paling kuat di dunia roket WS-2D, yang memiliki jangkauan hingga 400 kilometer. 
 
2. Angkatan Udara 
Angkatan Udara China saat ini memiliki jumlah pesawat tempur terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Rusia. Amerika memperkirakan negara ini memiliki sekitar 2.100 jet tempur modern dan 1.500 pesawat tempur tua, 500 pesawat angkut dan lebih dari 100 pesawat pengintai. 
 
China di antaranya memiliki lebih dari 100 jet tempur multirole J-10 dalam pelayanan, serta 280 pembom strategis Tu-16 dan jet tempur MiG-19. Selain itu juga memiliki 120 jet tempur-pembom JH-7 buatan dalam negeri. Selama 25 tahun terakhir, China telah membeli 176 pesawat tempur yang terdiri Su-27 dan Su-30 buatan Rusia dan mengembangkan pesawat tempur generasi kelima sendiri seperti J-20 dan J-31, yang telah menyelesaikan tes penerbangan. Pada 2013, China berhasil melakukan penerbangan perdana pesawat angkut militer besar Y-20. Pesawat ini diharapkan akan menggunakan mesin buatan China pada 2017 menggantikan mesin buatan Rusia. 
Dalam hal helikopter serang, China telah mengembangkan Z-10, yang dirancang terutama untuk misi perang anti-tank tetapi juga memiliki kemampuan skunder untuk perang udara ke udara. China juga telah membangun lini produksi yang lengkap untuk kendaraan udara tak berawak (UAV), dengan meluncurkan drone profil tinggi Guizhou Soar Dragon pada tahun 2013. Drone ini mampu membawa beban tempur 650 kilogram dan perjalanan lebih dari 7.000 km. 
 
 3.Senjata Nuklir 
DF-21 China China menguji bom atom pertama di tahun 1964, menjadi negara kelima di dunia yang memiliki senjata nuklir. Sejak mengirimkan satelit pertamanya ke luar angkasa pada tahun 1970, teknologi kedirgantaraan China telah meningkat ke tahap di mana telah mengirimkan astronot ke luar angkasa secara berkala untuk lebih dari satu dekade, dan bahkan memiliki stasiun ruang angkasa sendiri, the-Tiangong 1, yang diluncurkan pada bulan September 2011.
 Korps Artileri Kedua China memiliki sekitar 120.000 tentara dan 1,500-2,000 rudal balistik yang mampu membawa hulu ledak nuklir, termasuk hampir 100 rudal balistik antarbenua (ICBM) seperti DF-5A dengan jangkauan 13.000 km. Perkiraan konservatif China ada di urutan ketiga di belakang Rusia dan Amerika Serikat sebagai negara dengan senjata nuklir paling kuat di dunia, dengan setidaknya 130 rudal balistik yang mampu membawa hulu ledak nuklir, sekitar 40 kapal selam rudal balistik berkemampuan nuklir, beberapa lusin bom nuklir dirancang untuk pembom strategis, dan 150-350 rudal jelajah nuklir. Angka-angka belum diverifikasi mengingat sifat rahasia mereka, dan perkiraan paling berani menunjukkan bahwa China bisa memiliki sebanyak hampir 10.000 hulu ledak nuklir. 
4.Angkatan Laut 
 Sebelum pergantian abad ke-21, Angkatan Laut China dianggap sebagai “armada nyamuk” dibandingkan dengan kekuatan dunia. Sekarang, China telah menjadi pembuat kapal terbesar di dunia dengan lebih dari 3.000 galangan kapal di seluruh negeri. Pada saat yang sama, China telah aktif membeli teknologi angkatan laut asing, termasuk empat kapal perusak dan 10 kapal selam dari Rusia pada pergantian abad, serta berbagai jenis sistem pertahanan laut dan rudal udara. China sekarang juga memiliki kapal induk, Liaoning, ditugaskan pada tahun 2012 setelah dibangun kembali dari pembawa kapal induk era Soviet Varyag yang dibeli dari Ukraina. China juga tengah mengembangkan kapal induk sendiri, dengan dua kapal induk dilaporkan tengah dibangun. Menurut data AS, pada 2014 Angkatan Laut China memiliki satu kapal induk, 24 kapal perusak, 49 frigat dipandu-rudal, sembilan korvet, 57 kapal pendarat, lebih dari seratus kapal rudal modern dan beberapa ratus kapal patroli penjaga pantai, serta 61 kapal selam diesel dan 5-8 kapal selam nuklir. 

5. Pengeluaran militer 
Selama 20 tahun terakhir, anggaran pertahanan China telah tumbuh 19 kali lipat, dari dari US$ 6 miliar pada 1994 menjadi US$ 20 miliar pada tahun 2002, kemudian tumbuh menjadi US$ 100 miliar pada 2012 dan US$ 130 miliar pada 2014. Para ahli memperkirakan bahwa sekitar 40% belanja pertahanan China digunakan untuk mengembangkan persenjataan teknologi tinggi untuk Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Pada bulan Maret, Beijing mengumumkan bahwa anggaran pertahanan China pada 2015 akan naik sebesar 10% menjadi hampir US$ 150 milyar meskipun AS analis percaya angka sebenarnya bisa menjadi dua kali lebih banyak. 
Ahli Eropa menghitung belanja militer China 2014 menjadi US$ 216 miliar, yang akan melebihi gabungan dari Rusia, Jepang, India dan Korea Selatan. Sejak 2008, belanja militer China telah menjadi kedua di dunia di belakang Amerika Serikat. Militer China tetap bergantung pada industri senjata besar China, yang merangkum sekitar 30.000 perusahaan dan tiga juta pekerja. China sekarang juga telah menjadi eksportir senjata terbesar kelima di dunia, setelah Amerika Serikat, Rusia, Prancis dan Jerman. Tetapi di sisi lain China juga masih menjadi importir terbesar kedua di belakang India, meskipun diyakini bahwa angka ini akan terus turun seiring perkembangan industri militer China. (infoapajah.blogspot.co.id)
 

Posisi Peringkat Kekuatan Militer Indonesia di Dunia Tahun 2016



Peringkat kekuatan militer Indonesia di dunia kini turun 2 peringkat dari peringkat 12 dunia kini di tahun 2016 peringkat kekuatan militer Indonesia berada di posisi ke 14 dari 126 negara dunia yang dinilai oleh Global Fire Power dengan nilai GFP Power Index rating of 0.3354.

Di tahun 2015, kekuatan militer Indonesia berada pada posisi ke 12 dunia juga dinilai oleh tim GFP. Padahal target kekuatan militer Indonesia di tahun 2016 adalah masuk 10 besar kekuatan militer dunia.
Target kekuatan militer Indonesia adalah masuk 10 besar dunia seperti yang dituturkan oleh Kemenhan. Ryamizard menuturkan, ketika ia ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi orang nomor satu di Kemhan, kekuatan militer Indonesia berada di peringkat 19 pada tabel yang dibuat Global Fire Power. Saat ini posisi Indonesia meningkat ke peringkat 12 dengan total indeks 0,5238.

 Faktor-faktor yang digunakan untuk menilai kekuatan militer sebuah negara ialah seperti jumlah penduduk, usia warga yang bisa menjadi personel militer, anggaran militer, jumlah peralatan militer, konsumsi BBM, utang luar negeri, dan banyak pengukur lainnya.

Misalnya, jumlah populasi sebuah negara menjadi awal penilaian daftar ini. Secara umum, semakin besar populasi sebuah negara, kekuatan militer negara itu akan semakin besar.

Agar penilaian ini adil, kapabilitas sebuah negara mengembangkan dan memiliki persenjataan nuklir tidak menjadi faktor penilai. Semua penilaian menunjukkan kemampuan militer sebuah negara jika terjadi perang konvensional baik perang darat, udara, maupun laut.

Meskipun hasil peringkat kekuatan militer Indonesia yang berada pada peringkat 14 di tahun 2016 namun untuk indeks kekuata militernya meningkat dari 0,5238 GFP PowerIndex di tahun 2015 menjadi Power Index rating of 0.3354 di tahun 2016. Ini berarti masih ada peningkatan indek rating kekuatan militer. 

Untuk kekuatan militer di Asia Pasifik, Indonesia berada di urutan ke-8 militer terkuat tepat berada dibawah pakistan dimana di urutan pertama ada negara Rusia yang indeks rating powernya mencapai 0.0964.
Kalau kita memasuki wilayah terkecil di zona Asia Tenggara, Kekuatan militer Indonesia di ASEAN masih tetap berada di urutan pertama dengan kekuatan militer terbaik, Indonesia memimpin dari negara ASEAN lainnya yaitu 0.3684 - Vietnam, 0.4068 - Thailand, 0.6584 - Myanmar, 0.6679 - Malaysia, 0.8661 - Philippines, 1.0241 - Singapore, 1.8224 - Cambodia dan Negara 2.8947 - Laos.
Kita berharap dengan nilai ini bisa menjadi instropeksi untuk kekuatan militer Indonesia kedepan untuk menjaga pertahanan keamamanan NKRI dari segala ancaman. (Caca Samil MiliterOne)
 

Mungkinkah AS Perang Lawan Beijing di Laut China Selatan?

Sebuah studi yang dilakukan oleh Angkatan Darat AS lewat semua persiapan perang melawan China setelah Beijing menolak untuk mematuhi keputusan pengadilan arbitrase internasional di Denhaag dan menjadi lebih agresif dalam menanggapi putusan yang merugikan klaim mereka di Laut China Selatan.
 Kapal induk China, Liaoning dikawal beberapa kapal menuju Laut China Selatan

 
Sebuah studi baru oleh RAND Corporation berjudul “Perang dengan China: Berpikir Secara Tak-Terpikirkan” yang ditugaskan oleh Angkatan Darat AS berjalan melalui perencanaan perang melawan rezim Beijing yang dirasa semakin bermusuhan setelah Amerika Serikat ikut campur di wilayahnya tersebut dalam upaya untuk membatasi pengaruh China.

Agresi dari Beijing termasuk sebuah artikel oleh China gerai media pemerintah, Global Times menyerukan perang terhadap Australia atas posisi negara itu mengenai kepemilikan Laut China Selatan. Editorialnya tentang penghinaan bagaimana Australia “didirikan melalui cara-cara tidak beradab” dan Canberra disebut “kucing kertas” dan bersumpah bahwa Australia akan “mendapatkan pelajaran” karena mendukung keputusan internasional terhadap klaim China pada Laut China Selatan yang disengketakan.

Adalah Amerika Serikat, yang bahkan tidak ikut menandatangani Traktat Hukum Laut dimana wilayah sengketa itu konon diputuskan, dimana Filipina mengajukan tuntutan kepada sidang arbitrase internasional terhadap klaim China. Beijing berpendapat bahwa Denhaag tidak memiliki kewenangan yang cukup untuk mendengar kasus ini karena China tidak pernah ikut dalam persidangan.

Meskipun demikian, China berada dalam tekanan yang meningkat dari pemerintahan Obama untuk melepaskan klaim mereka ke Kepulauan Paracel dan Spratly serta jalur perairan yang dilalui 40% perdagangan dunia. Laut China Selatan juga sebagai salah satu dari deposit minyak lepas pantai terbesar didunia.


Ungkapan “berpikir yang tak terpikirkan” berfungsi sebagai alarm dari publikasi Rand Corporation sebagai “think tank” yang sering digunakan sebagai slogan sebelum mendorong pemerintah Amerika Serikat pada beberapa strategi Perang Dingin atau terhadap peningkatan kekerasan di Filipina.

Menurut studi tersebut, “Penelitian ini disponsori oleh Kantor Wakil Angkatan Darat dan dilakukan dengan RAND Arroyo Center Strategi, Doktrin, dan Sumber Daya Program. RAND Arroyo Center, adalah bagian dari RAND Corporation, merupakan penelitian yang didanai pemerintah federal dan pusat pengembangan yang disponsori oleh Angkatan Darat Amerika Serikat.”

 Studi ini membawa sejumlah asumsi yang dipertanyakan paling menonjol di antaranya adalah bahwa negara-negara besar lain akan menahan diri dari keterlibatan dalam konflik dan pertempuran yang akan tetap terbatas di Asia Timur. Penelitian ini juga mengasumsikan bahwa senjata nuklir tidak akan digunakan.

Studi ini pasti meningkatkan pertaruhan dalam kegagalan “poros Asia” Obama yang seharusnya mengelilingi China untuk membatasi pengaruh regional mereka, strategi yang sangat memprihatinkan hingga menyebabkan peningkatan aktivitas militer di Laut Cina Timur dimana Amerika Serikat bergabung dengan Jepang dan India.

Pada hari Sabtu (06/08/2016), China juga telah bergerak menaikkan taruhan, hanya beberapa hari setelah memperingatkan warganya bahwa negara melihat harus melangkah dan mengambil Laut China Selatan sebagai perang atas tanah mereka, dengan mengeluarkan isu patroli tempur dan mengirimkan legiun kapal, pesawat pembom, dan jet tempur untuk patroli wilayah diwilayah tersebut.

Sumber: Sputniknews 
               http://militerone.blogspot.com/

Selasa, 23 Agustus 2016

Curhat Istri Tontowi, Manjakan Anak dan Bonus Rp 5 Miliar


Liputan6.com, Jakarta - Istri Tontowi Ahmad, Michelle Nabila Harminc, tidak bisa menutupi kebahagiaannya setelah sang suami meraih medali emas Olimpiade Rio 2016. Michelle berharap dengan sukses tersebut membuat sang suami akan lebih banyak waktu bersama keluarga.
Tontowi/Liliyana mengalahkan ganda campuran Malaysia, ChangPengSoon/Goh LiuYing 21-14, 21-12 di partai final bulu tangkis ganda campuran Olimpiade 2016, 17 Agustus 2016. Medali emas itu juga menjadi kado spesial, karena bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-71.
Michelle juga mengutarakan bagaimana Tontowi benar-benar konsentrasi sebelum berangkat ke Rio de Janeiro. Dia bersyukur bersama Liliyana Natsir mampu mempersembahkan medali emas dari nomor ganda campuran.
"Setelah ini, mudah-mudahan dia punya lebih banyak waktu bersama keluarga. Persiapan kemarin kan sudah mengurus waktu dan pikiran," ucap Michelle kepada wartawan di Kantor Kemenpora, Jakarta, Selasa (23/8/2016).
Mengenai bonus Rp 5 miliar yang akan diterima Tontowi setelah meraih medali emas Olimpiade Rio, Michelle mengaku belum punya rencana. Selain itu, Michelle juga bercerita tentang manjanya sang putri, Danish kepada Tontowi bila tengah berada di rumah.
"Masakan sukanya asin dan pedas, tapi itu di luar pertandingan. Bonus, buat usaha ya," tutur dia.
"Biasanya, papanya (Tontowi) nurut sama Danish. Semua permintaannya dikabulkan. Bukan memanjakan, tapi lebih karena sayang. Belum ada rencana untuk anak, kalau mau jadi atlet akan kami siapkan. Begitu juga kalau mau sekolah tinggi kami fasilitasi," papar dia.

Sumber :  http://bola.liputan6.com/read/2584422/curhat-istri-tontowi-manjakan-anak-dan-bonus-rp-5-miliar

Peraih Medali Perak Eko Yuli dan Sri Ikut Berterima Kasih kepada Tontowi / Liliyana


Dua atlet angkat besi Indonesia, Sri Wahyuni Agustiani dan Eko Yuli Irawan menunjukkan medali perak di Terminal 2 di Bandara Soetta, Minggu (14/08). Pemerintah menjanjikan bonus sebesar Rp 2 miliar untuk peraih medali perak. (Liputan6.com/Helmi Afandi)

Liputan6.com, Jakarta - Dua lifter yang mempersembahkan perak Indonesia di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Eko Yuli Irawan dan Sri Wahyuni, terinspirasi prestasi Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Eko Yuli dan Sri Wahyuni ingin mencapai prestasi tertinggi seperti Tontowi/Liliyana, yakni medali emas Olimpiade.
Eko Yuli dan Sri ikut menghadiri acara penyambutan kepulangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Selasa (23/8/2016). Keduanya juga ikut dalam arak-arakan dari Bandara Soetta menuju Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta.


Pencapaian Sri Wahyuni dan Eko Yuli mendongkrak motivasi atlet-atlet lain Indonesia, termasuk Tontowi/Liliyana yang meraih emas bulu tangkis ganda campuran Olimpiade 2016. Untuk alasan itu pula keduanya dihadirkan dalam acara penyambutan Tontowi/Liliyana yang tiba hari ini (23/8/2016) di Tanah Air setelah melalui perjalanan 36 jam dari Brasil.

"Mereka sudah berjuang keras atas nama Indonesia untuk mendapatkan medali. Apalagi, yang mereka dapat adalah emas. Saya ucapkan selamat kepada mereka karena sukses melanjutkan tradisi emas. Atas nama rekan-rekan atlet, saya berterima kasih," kata Eko Yuli saat menjawab pertanyaan Liputan6.com, Selasa (23/8/2016).

Eko Yuli juga menyatakan prestasi yang dicapai Tontowi/Liliyana memacu motivasinya untuk meraih emas. Ia pun tak sungkan memasang target emas jika dapat tampil di Olimpiade Tokyo 2020.

Senada dengan Eko Yuli, Sri Wahyuni juga melayangkan pujiannya kepada Tontowi/Liliyana. Di sisi lain, ia juga mengaku kecewa karena gagal menjejaki langkah seperti Tontowi/Liliyana memenangkan medali emas.

"Terima kasih atas semua perjuangan mereka dan selamat kembali ke Tanah Air. Jujur, saya juga ingin meraih emas. Memang belum rezeki saja. Tapi saya tetap bersyukur," tutur Sri Wahyuni kepada Liputan6.com.

Berkat sumbangsih keduanya, Eko Yuli dan Sri Wahyuni pun diajak ikut naik angkutan khusus untuk arak-arakan dari Bandara Soetta menuju kantor Kemenpora bersama Tontowi/Liliyana. Rabu (24/8/2016), keduanya juga akan berkunjung ke Istana Negara untuk menghadap Presiden Joko Widodo.

Sumber :  http://www.liputan6.com/