Gunung Gamalama, Maluku Utara, belakangan ini
tengah menggeliat. Gunung ini kembali erupsi pada Rabu 3 Agustus 2016
sekitgar pukul 06.00 WIT (Waktu Indonesia Timur). Semburan material
vulkaniknya mengganggu aktivitas warga sekitar, bahkan memicu kebijakan
penutupan Bandara Babullah Ternate.
Gemuruh terdengar cukup kuat oleh para warga di sekitaran gunung
tersebut. Di sekitar Kelurahan Akehuda, warga keluar rumah dan
memalingkan perhatian ke Puncak Gunung Gamalama untuk menyaksikan
aktivitas erupsi yang mulai mengeluarkan abu vulkanik.
Kejadian di pagi hari ini membuat sebagian warga saling membangunkan
tetangga mereka yang masih terlelap tidur. “Bangun-bangun gunung kembali
meletus lagi,” teriak warga sebagaimana dilansir
OkeZone.
Meski demikian, sebagian warga terlihat beraktivitas seperti biasanya tanpa menghiraukan bunyi gemuruh yang dasyat itu.
“Ini sudah biasa, selama belum ada pengumuman dari pemerintah maka
kita begini saja di rumah,” aku salah satu warga Akehuda, Suratman.
Bunyi gemuruh menyerupai bunyi pesawat ini membuat sebagian warga
tidak mengetahui jika Gunung Gamalama kembali mengeluarkan abu vulkanik.
“Awalnya kami kira ini bunyi pesawat karena bunyinya mirip. Ternyata gunung meletus,” tambahnya.
Kelurahan Akehuda sendiri merupakan salah satu daerah yang sering
dilalui banjir lahar dingin akibat dari erupsi. Bahkan, pada 2014 sempat
memakan korban jiwa sehingga warga sangat was-was.
Tentang Gunung Gamalama
Gunung Gamalama adalah sebuah gunung stratovolcano kerucut yang
merupakan keseluruhan Pulau Ternate, Kepulauan Maluku, Indonesia. Pulau
ini ada di pesisir barat Pulau Halmahera yang ada di bagian utara
Kepulauan Maluku. Selama berabad-abad, Ternate adalah pusat benteng
Portugis dan VOC Belanda untuk perdagangan rempah-rempah, yang telah
mencatat aktivitas volkanik Gamalama.
Gunung Gamalama mempunyai ketinggian 1.715 meter di atas permukaan laut.
Gunung Gamalama ditutupi Hutan Montane pada ketinggian 1.200 – 1.500 m
dan Hutan Ericaceous pada ketinggian di atas 1.500 m.
Nama Gunung Gamalama diambil dari kata Kie Gam Lamo (“negeri yang
besar”). Gamalama sudah lebih dari 60 kali meletus sejak letusannya
pertama kali tercatat pada tahun 1538. Erupsi yang menimbulkan korban
jiwa setidaknya sudah empat kali terjadi, dengan korban terbanyak jatuh
pada tahun 1775. Kala itu, erupsi Gunung Gamalama melenyapkan Desa Soela
Takomi bersama 141 penduduknya. Pasca letusan, di lokasi desa yang
berjarak 18 kilometer dari pusat Kota Ternate itu muncul dua danau,
yaitu Danau Tolire Jaha dan Tolire Kecil.
Makam bisa tumbuh sendiri
Dari sisi lain, Gunung Gamalama juga lekat dengan keyakinan atau
mitos yang diyakini masyarakat sekitar. Puncak Gamalama diyakini sebagai
tempat suci, tempat bersemayamnya para raja dan imam-imam masjid
Kesultanan Ternate serta para penyebar agama
Islam.
Salah seorang warga Kelurahan Gambesi, Ternate Selatan, Ikram Sangaji
(33) menceritakan makam-makam suci yang berada di puncak Gunung
Gamalama biasa disebut jere. Dia mengatakan, jere atau makam suci itu
tumbuh sendiri.
“Ayah saya menceritakan jere itu makamnya para aulia dan anbia.
Jere-jere yang tersebar di puncak Gamalama itu muncul sendiri. Kalau
jere yang tumbuh dahulu itu batu nisannya warna putih, sekarang batu
nisannya sudah berwarna hitam,” kata dia, Kamis (04/08/2016).
Gunung Gamalama. (Istimewa)
Ikram menambahkan makam yang diyakini milik para aulia dan anbia atau
orang-orang suci itu tak hanya tumbuh di puncak Gamalama tapi juga di
beberapa Kelurahan di Kota Ternate.
“Seperti jere yang ada di Kelurahan Kulaba dipercaya milik para raja
Kesultanan Ternate, Kelurahan Sangaji Utara milik Sangaji (panglima
perang Kesultanan Ternate),” kata dia.
Adapun jere di Kelurahan Sulamadaha milik para penyebar agama
Islam,
Kelurahan Sasa milik para penasehat empat Kesultanan di Maluku Utara,
Kelurahan Tobona milik para imam-imam masjid Kesultanan Ternate, dan
Kelurahan Foramadiahi milik Sultan Khairun Ternate.
Para penunggu
Ikram sebagaimana dilansir
Liputan6 mengatakan, pada
Kelurahan di Kota Ternate memiliki penunggunya. Menurut dia, para
penunggu itu dipercaya sebagai penjaga lokasi di Kelurahan tersebut.
Dia mengatakan, para penjaga itu dapat dilihat dengan mata batin
khusus. “Untuk di Kota Ternate yang bisa melihat itu hanya pada
orang-orang yang memiliki mata batin. Orang-orang ini bisa melihat
orang-orang suci itu yang mendiami setiap Kelurahan,” kata dia.
Selain penunggu di Kelurahan, sambung Ikram, pada jere-jere juga
terdapat penjaganya. “Sampai sekarang kepercayaan ini masih tertanam di
benak
setiap generasi. Bahwa Ternate adalah kota suci, yang dihuni oleh
para aulia dan anbia,” imbuhnya.
“Biasanya kalau ada musibah seperti ini pasti ada kesalahan besar
yang dibuat oleh warga Ternate. Misalnya, ada badai dan hujan petir, itu
adalah tanda atau pemberitahuan, dan pasti ada sesuatu,” katanya.
“Belakangan ini ada hujan dan badai petir kemudian ditemukan bayi
yang dibuang. Sampai bayi yang dibuang itu sudah ditemukan, barulah
badai dan petir berhenti dengan sendiri.
Sumber :
http://simomot.com/2016/08/05/misteri-di-gunung-gamalama-tentang-makam-makam-yang-bisa-tumbuh-sendiri/