Rabu, 20 Juli 2016

SANTOSO DI TEMBAK, BEGINI UNGKAPAN IKHLAS KELUARGANYA

Santoso alias Abu Wardah tewas setelah baku tembak dengan anggota satuan tugas Operasi Tinombala, di Poso, Sulawesi Tengah, Senin (18/07/2016) lalu. Keluarga Santosa yang tinggal di Desa Adipuro, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu ternyata sudah mendengar kabar tersebut. 

Melalui saudara sepupu Santosa, Ahmad Basri, keluarga mengaku ikhlas atas tewasnya Santoso.
“Saya sendiri belum tahu benar tidaknya Santoso ketembak. Tapi saya sudah ikhlas saja. Sudah jatahnya dia ketembak,” kata Ahmad Basri, Selasa (19/07/2016).
Sejauh ini, lanjut Basri, belum ada pembicaraan maupun rencana apapun dari pihak keluarga terkait meninggalnya Santoso.
Basri sebagaimana diberitakan TribunNews pun berkeyakinan jika jenazah Santoso tidak akan dimakamkan di Desa Adipiro, melainkan di tempat keluarganya yang lain yang tinggal di luar kota Magelang.
“Mungkin tidak dimakamkan disini. Saya tidak ikut campur soal itu. Karena saya jarang berurusan,” ujar Basri.
Terduga teroris Santosa semasa hidup. (Facebook Humas Mabes Polri)
Terduga teroris Santosa semasa hidup. (Facebook Humas Mabes Polri)
Menurut Basri, kedua orangtua Santoso, Irsan (almarhum) dan Rumiyah, memang berasal dari Desa Adipiro yang terletak di ketinggian sekitar 1.300 mdpl di Gunung Sumbing.
Keluarga Santoso kemudian pindah ke Palu karena mengikuti program transmigrasi tahun 1970 silam.
Saat itu, Basri mengaku belum lahir sehingga tidak mengetahui secara pasti kehidupan Santoso sejak kecil.
Namun, Basri pernah bertemu dengan Santoso saat pulang ke Desa Adipiro untuk menjual tanah orang tuanya pada tahun 1998.
“Sejak itu kami sudah tidak pernah berkomunikasi,” tandas Basri.
Kepala Desa Adipuro, Kecamatan Kaliangkrik, Waluyo juga menyatakan tidak ada persiapan khusus terkait kematian orang yang diduga menjadi otak sejumlah aksi terorisme di Indonesia timur tersebut.
“Kemungkinan jenazah tidak dimakamkan di desa sini. Tidak ada hubungannya (langsung). Keluarganya di luar daerah masih banyak,” kata Waluyo.
Sosok Mukhtar
Sebelumnya, Mabes Polri memastikan teroris yang tewas bersama Santoso dalam baku tembak dengan Satgas Operasi Tinombala bernama Mukhtar. Hal ini berdasarkan identifikasi yang telah dilakukan Tim Disaster Victim Identification (DVI) di Rumah Sakit Bhayangkara, Palu, Sulawesi Tengah.
Kadiv Humas Polri, Irjen Boy Rafli Amar menyebutkan Mukhtar merupakan anak buah Santoso di kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Ia juga masuk dalam 12 nama anak buah Santoso yang menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO).
“Mukhtar, dia juga DPO yang sudah dirilis ada sekitar 12 orang yang masih hidup dan ada nama Mukhtar,”kata Boy di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (19/07/2016).
Menurut Boy, langkah identifikasi telah dilakukan, sayangnya Boy tak bisa menjelaskan detail ciri fisik Mukhtar. Namun, sama seperti Santoso Tim DVI masih melakukan pemeriksaan DNA untuk memastikan bahwa jenazah tersebut adalah Mukhtar.
“Ciri fisik belum dapat saya karena proses (identifikasi) masih berjalan,” ujar Boy seperti diberitakan OkeZone.
Boy menambahkan, peranan Mukhtar sama seperti anak buah Santoso lainnya yang kerap melakukan rencana teror dan latihan teror.
“Sama, mereka kan aktivis, kegiatan mereka latihan perencanaan begitu saja jadi tidak lepas dari rencana teror dan latihan teror karena pada umumnya saling menutup satu orang punya keahlian apa. Jadi enggak ada pembagian tugas spesifik,” ujar Boy.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Binsar Panjaitan mengonfirmasi bahwa dua jenazah teroris yang tertembak dalam penyergapan di Desa Tambarana, Poso, adalah Santoso dan Mukhtar. Padahal, sebelumnya pihak kepolisian menduga jenazah yang tertembak adalah Basri, bukan Mukhtar.
Menurut Luhut, Mukhtar merupakan salah satu orang dekat yang menjadi tangan kanan Santoso.
https://simomot.com/2016/07/20/santosa-tewas-ditembak-begini-ungkapan-ikhlas-keluarganya/

INILAH AREA HITAM YANG MUNCUL DIPERMUKAAN MATAHARI, APA YANG AKAN TERJADI ???

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menemukan adanya dua bagian berlubang di permukaan matahari yang terlihat gelap. Menurut ilmuwan NASA, dua bagian gelap itu diperkirakan seluas 10 persen dari permukaan total matahari. Ketika lubang di bagian gelap itu terbuka maka matahari langsung memancarkan ledakan besar dan melepaskan partikel yang dikenal dengan sebutan badai matahari.
Meskipun emisi berat ini dapat membunuh manusia, namun lapisan asmosfer bumi mampu menangkalnya. Hanya saja, satelit yang ada di antariksa memang tak mampu menanggung risiko badai matahari itu.
Satu lubang di kutub selatan matahari mencakup 6-8 persen permukaan benda langit yang pusat tata surya itu. Sedangkan bagian yang lebih kecil hanya mencakup 0,16 persen.
Meski terlihat kecil, namun lubang itu sesungguhnya seluas 3,8 juta mil persegi.  “Area di lubang di matahari itu memiliki kepadatan dan temperatur lebih rendah daripada atmosfer luarnya yang dikenal dengan sebutan korona,” kata ilmuwan NASA seperti dikutip dari JPNN.
Lubang itu menghitam karena partikel yang meledak keluar dari matahari dengan kecempatan mencapai 500 mil per jam, bergerak lebih cepat daripada bagian lain di permukaan matahari.  Badai matahari secara konstan terpancar dari matahari, namun menjadi lebih intens ketika lubang hitam itu terlihat.
“Lubang koronal bisa menjadi sumber partikel badai matahari yang menyelimuti Bumi, “ lanjut ilmuwan NASA.

Senin, 07 Desember 2015

Kesultanan Gorontalo

Gorontalo, Kerajaan / Prov. Gorontalo

—————————————————————————————————————————–
Kerajaan Gorontalo terletak di provinsi Gorontalo.
The Kingdom of Gorontala was located in the province of Gorontalo.
Wilayah Gorontalo
Wilayah Gorontalo
——————————————————————————————————————————–
Foto kerajaan / kingdom Gorontalo: link
————————————————————————————————————————-
Sejarah / History Gorontalo

Pada mulanya (abad ke-12) Kerajaan Gorontalo terdapat 17 kerajaan kecil-kecil yang berkedudukan di kaki/lereng gunung.
Ke-17 kerajaan tersebut antara lain sebagai berikut :
  1. Kerajaan Hunginaa, Rajanya: Lihawa
  2. Kerajaan Lupoyo, Rajanya: Pai
  3. Kerajaan Bilinggata, Rajanya: Lou
  4. Kerajaan Wuwabu, Rajanya: Wahumolongo
  5. Kerajaan Biawu, Rajanya: Wolango Huladu
  6. Kerajaan Padengo, Rajanya: Palanggo
  7. Kerajaan Huwangobotu Olowala, Rajanya: Dawanggi
  8. Kerajaan Tapa, Rajanya: Deyilohiyo Daa
  9. Kerajaan Lauwonu, Rajanya: Bongohulawa (Perempuan)
  10. Kerajaan Toto, Rajanya: Tilopalani (Perempuan)
  11. Kerajaan Dumati, Rajanya: Buata
  12. Kerajaan Ilotidea, Rajanya: Tamau
  13. Kerajaan Pantungo, Rajanya: Ngobuto
  14. Kerajaan Panggulo, Rajanya: Hungiyelo
  15. Kerajaan Huangobotu Oloyihi, Rajanya: Lealini
  16. Kerajaan Tamboo, Rajanya: Dayilombuto (Perempuan)
  17. Kerajaan Hulontalangi, Rajanya: Humalanggi
Islam masuk ke Gorontalo diperkirakan pada abad ke 16 M. Sejak saat itu, Gorontalo mulai dikenal. Pada waktu yang tidak terlalu lama, Gorontalo sudah menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di wilayah Indonesia Timur. Gorontalo juga dikenal sebagai pusat pusat pendidikan dan perdagangan. Hal ini karena lateknya yang trategis di Teluk Tomini.
Sebelum Belanda masuk dan menguasai Gorontalo, daerah ini berbentuk kerajaan-kerajaan yang tergabung dala satu ikatan kekeluargaan yang disebut Pohalaa. Terdapat lima Pohalaa, yaitu, Gorontalo, Limboto, Suwawa, Boalemo, dan Atinggola.
Di era pemerintahan kolonial Belanda, Gorontalo menjadi pusat pemerintahan Afdeling Sulawesi Utara Gorontalo. Wilayah pemerintahannya meliputi Gorontalo, wilayah sekitarnya Buol Tolitoli, Donggala, dan Bolaang Mongondow.
Pada tahun 1889, Gorontalo berada di bawah pemerintahan langsung Belanda yang kemudian dikenal dengan nama “Rechtatreeks Bestuur”. Tahun 1922, Gorontalo menjadi tiga wilayah pemerintahan afdeling, yaitu, Gorontalo, Boalemo, dan Buol. Kondisi ini berlangsung hingga meletusnya Perang Dunia II.
Sumber: link
—————–
Islam came to Gorontalo probably in the 16th century AD. Since then, Gorontalo became well known. In a short time, Gorontalo had become one of the centers, spreading Islam in eastern Indonesia. Gorontalo is also known as a center of education and commerce. This is due to the strategic location at Tomini.
Before the Dutch entered and controled Gorontalo, the kingdoms in the area made a kind of federation of “families”, called Pohalaa. There are five Pohalaa’s, namely, Gorontalo, Limboto, Suwawa, Boalemo, and Atinggola.
In the era of Dutch colonial rule, Gorontalo became the administrative center of the “Afdeling” North Sulawesi, Gorontalo. This afdeling covered Gorontalo, the surrounding area Buol Tolitoli, Donggala, and Bolaang Mongondow.
In 1889, Gorontalo came under direct Dutch rule, called “Rechtatreeks Bestuur”. In 1922, Gorontalo was divided in 3 districts of the Afdeling, namely, Gorontalo, Boalemo, and Buol. This condition lasted until the outbreak of World War II.
———————————————————————————————————–
Daftar Raja / List of Kings

Click to enlarge
Sumber / Source: link
————————————————————————————————————–
Sumber / Source

Sejarah Raja Gorontalo: link
Sejarah Gorontalo: link
Sejarah Gorontalo: link
Daftar Raja: link
17 kerajaan kecil pada awal Gorontalo: link
Orang Gorontalo keturunan Raja: link
———————————————————————————————————–
Foto
Foto kerajaan / kingdom Gorontalo: link
———————————————————————————————————
Raja Dogugu Gorontalo 1870
Raja Dogugu Gorontalo 1870
Bele Li Mbui (Rumah Adat Gorontalo)
Bele Li Mbui (Rumah Adat Gorontalo)
———————————————————————————————————————————
2 Comments

2 thoughts on “Gorontalo, Kerajaan / Prov. Gorontalo”

Yang didaftar diatas itu tidak lebih seluas desa/kelurahan sekarang, kira-kira berpenduduk 90an orang. Kenapa kira-kira. Zaman Majapahit Sunda Kelapa berpenduduk 10rb jiwa, termasuk rawa-rawa, hutan belukar dan rimba raya Bekasi, Depok dan Tangerang. Sekarang 15 juta atau 1500 X. Dengan Provinsi yang hanya 1 juta perbandingan diatas jadi 666 orang. Jika dianggap pertumbuhan hanya sepertiganya maka penduduk Gorontalo di zaman Majapahit hanya 2000 orang termasuk Limutu, Suwawa dan Atingola. Jika 1000 orang berada dikota sekarang berarti 17 Linula rata-rata 90 orang. Kira-kira 25 KK?. Kerajaan terdiri dari 25KK?. Ketika Angkatan Laut Majapahit yang super canggih dimasa itu masuk, yang pertama ketemu adalah Linula pesisir, Hulontalangi yang dalam versi lain dibawah Ilahude. Ilahude diangkat jadi koordinator pemungut upeti dan diberi gelar Wadi Palapa. Otomatis “kerajaan” yang tidak punya istana, tentara, atau panglima/Patih. langsung tunduk ketakutan. Dibuatlah sejarah Ilahude berhasil mempersatukan kerajaan-kerajaan tersebut. Yang menurut Arman Humanggio dalam “KERAJAAN GORONTALO, FAKTAKAH?” kepala Linula adalah Wali Kuasa dari Ternate semacam Jawara. Jawara adalah Pendekar penjaga kebun, kandang, tambak atau dermaga yang diutus Bos. dalam hal ini kerajaan Ternate. sedangkan (Part 3: Asia & Pacific Oceania, München 2003, s. 1275-1301, ISBN 3-598-21545-2) menyebutkan Lords Of Gorontalo (Para Tuan Tanah), bukan Kings atau Kingdoms. Tidak ada bekas-bekas Istana, Pintu Gerbang, Tentara, kandang kuda atau perangkat kerajaan lain. Wallahu’alam

Kesultanan Ternate

Kesultanan Ternate

 Kesultanan Ternate atau juga dikenal dengan Kerajaan Gapi adalah salah satu dari 4 kerajaan Islam di Kepulauan Maluku dan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada tahun 1257. Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara antara abad ke-13 hingga abad ke-17. Kesultanan Ternate menikmati kegemilangan di paruh abad ke-16 berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militernya. Pada masa jaya kekuasaannya membentang mencakup wilayah Maluku, Sulawesi bagian utara, timur dan tengah, bagian selatan kepulauan Filipina hingga sejauh Kepulauan Marshall di Pasifik.

Asal Usul

Pulau Gapi (kini Ternate) mulai ramai di awal abad ke-13. Penduduk Ternate awal merupakan warga eksodus dari Halmahera. Awalnya di Ternate terdapat 4 kampung yang masing-masing dikepalai oleh seorang momole (kepala marga). Merekalah yang pertama–tama mengadakan hubungan dengan para pedagang yang datang dari segala penjuru mencari rempah–rempah. Penduduk Ternate semakin heterogen dengan bermukimnya pedagang Arab, Jawa, Melayu dan Tionghoa. Oleh karena aktivitas perdagangan yang semakin ramai ditambah ancaman yang sering datang dari para perompak maka atas prakarsa Momole Guna pemimpin Tobona diadakan musyawarah untuk membentuk suatu organisasi yang lebih kuat dan mengangkat seorang pemimpin tunggal sebagai raja.
Tahun 1257 Momole Ciko pemimpin Sampalu terpilih dan diangkat sebagai kolano (raja) pertama dengan gelar Baab Mashur Malamo (1257-1272). Kerajaan Gapi berpusat di kampung Ternate, yang dalam perkembangan selanjutnya semakin besar dan ramai sehingga oleh penduduk disebut juga sebagai Gam Lamo atau kampung besar (belakangan orang menyebut Gam Lamo dengan Gamalama). Semakin besar dan populernya Kota Ternate, sehingga kemudian orang lebih suka mengatakan kerajaan Ternate daripada kerajaan Gapi. Di bawah pimpinan beberapa generasi penguasa berikutnya, Ternate berkembang dari sebuah kerajaan yang hanya berwilayahkan sebuah pulau kecil menjadi kerajaan yang berpengaruh dan terbesar di bagian timur Indonesia khususnya Maluku.

Struktur Kerajaan

Pada masa–masa awal suku Ternate dipimpin oleh para momole. Setelah membentuk kerajaan jabatan pimpinan dipegang seorang raja yang disebut kolano. Mulai pertengahan abad ke-15, Islam diadopsi secara total oleh kerajaan dan penerapan syariat Islam diberlakukan. Sultan Zainal Abidin meninggalkan gelar kolano dan menggantinya dengan gelar sultan. Para ulama menjadi figur penting dalam kerajaan.
Setelah sultan sebagai pemimpin tertinggi, ada jabatan jogugu (perdana menteri) dan fala raha sebagai para penasihat. Fala raha atau empat rumah adalah empat klan bangsawan yang menjadi tulang punggung kesultanan sebagai representasi para momole pada masa lalu, masing–masing dikepalai seorang kimalaha. Mereka yaitu Marasaoli, Tomagola, Tomaito dan Tamadi. Pejabat–pejabat tinggi kesultanan umumnya berasal dari klan–klan ini. Bila seorang sultan tak memiliki pewaris maka penerusnya dipilih dari salah satu klan. Selanjutnya ada jabatan – jabatan lain Bobato Nyagimoi se Tufkange (Dewan 18), Sabua Raha, Kapita Lau, Salahakan, Sangaji, dll.

Kolano dan Sultan Ternate Masa jabatan[3][4][5][6][7]
Baab Mashur Malamo 1257 - 1277
Jamin Qadrat 1277 - 1284
Komala Abu Said 1284 - 1298
Bakuku (Kalabata) 1298 - 1304
Ngara Malamo (Komala) 1304 - 1317
Patsaranga Malamo 1317 - 1322
Cili Aiya (Sidang Arif Malamo) 1322 - 1331
Panji Malamo 1331 - 1332
Syah Alam 1332 - 1343
Tulu Malamo 1343 - 1347
Kie Mabiji (Abu Hayat I) 1347 - 1350
Ngolo Macahaya 1350 - 1357
Momole 1357 - 1359
Gapi Malamo I 1359 - 1372
Gapi Baguna I 1372 - 1377
Komala Pulu 1377 - 1432
Marhum (Gapi Baguna II) 1432 - 1486
Zainal Abidin 1486 - 1500
Sultan Bayanullah 1500 - 1522
Hidayatullah 1522 - 1529
Abu Hayat II 1529 - 1533
Tabariji 1533 - 1534
Khairun Jamil 1535 - 1570
Babullah Datu Syah 1570 - 1583
Said Barakat Syah 1583 - 1606
Mudaffar Syah I 1607 - 1627
Hamzah 1627 - 1648
Mandarsyah 1648 - 1650 (masa pertama)
Manila 1650 - 1655
Mandarsyah 1655 - 1675 (masa kedua)
Sibori 1675 - 1689
Said Fatahullah 1689 - 1714
Amir Iskandar Zulkarnain Syaifuddin 1714 - 1751
Ayan Syah 1751 - 1754
Syah Mardan 1755 - 1763
Jalaluddin 1763 - 1774
Harunsyah 1774 - 1781
Achral 1781 - 1796
Muhammad Yasin 1796 - 1801
Muhammad Ali 1807 - 1821
Muhammad Sarmoli 1821 - 1823
Muhammad Zain 1823 - 1859
Muhammad Arsyad 1859 - 1876
Ayanhar 1879 - 1900
Muhammad Ilham (Kolano Ara Rimoi) 1900 - 1902
Haji Muhammad Usman Syah 1902 - 1915
Iskandar Muhammad Jabir Syah 1929 - 1975
Haji Mudaffar Syah (Mudaffar Syah II) 1975 – 2015[8]


Moloku Kie Raha


Lukisan pemandangan Pulau Ternate dengan Gunung Gamalama-nya (sekitar tahun 1883-1889).
Selain Ternate, di Maluku juga terdapat paling tidak 3 kerajaan lain yang memiliki pengaruh yaitu Kesultanan Tidore, Kesultanan Jailolo, dan Kesultanan Bacan. Kerajaan–kerajaan ini merupakan saingan Ternate dalam memperebutkan hegemoni di Maluku. Berkat perdagangan rempah Ternate menikmati pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, dan untuk memperkuat hegemoninya di Maluku, Ternate mulai melakukan ekspansi. Hal ini menimbulkan antipati dan memperbesar kecemburuan kerajaan lain di Maluku yang memandang Ternate sebagai musuh bersama hingga memicu terjadinya perang.
Demi menghentikan konflik yang berlarut–larut, sultan Ternate ke-7 Kolano Cili Aiya atau disebut juga Kolano Sida Arif Malamo (1322-1331) mengundang raja–raja Maluku yang lain untuk berdamai dan bermusyawarah membentuk persekutuan. Persekutuan ini kemudian dikenal sebagai Persekutan Moti atau Motir Verbond. Butir penting dari pertemuan ini selain terjalinnya persekutuan adalah penyeragaman bentuk kelembagaan kerajaan di Maluku. Oleh karena pertemuan ini dihadiri 4 raja Maluku yang terkuat maka disebut juga sebagai persekutuan Moloku Kie Raha (Empat Gunung Maluku).

Kedatangan Islam


Sigi Lamo, masjid peninggalan Kesultanan Ternate.
Tak ada sumber yang jelas mengenai kapan awal kedatangan Islam di Maluku Utara khususnya Ternate. Namun diperkirakan sejak awal berdirinya kerajaan Ternate masyarakat Ternate telah mengenal Islam mengingat banyaknya pedagang Arab yang telah bermukim di Ternate kala itu. Beberapa raja awal Ternate sudah menggunakan nama bernuansa Islam namun kepastian mereka maupun keluarga kerajaan memeluk Islam masih diperdebatkan. Hanya dapat dipastikan bahwa keluarga kerajaan Ternate resmi memeluk Islam pertengahan abad ke-15.
Kolano Marhum (1465-1486), penguasa Ternate ke-18 adalah raja pertama yang diketahui memeluk Islam bersama seluruh kerabat dan pejabat istana. Pengganti Kolano Marhum adalah puteranya, Zainal Abidin (1486-1500). Beberapa langkah yang diambil Sultan Zainal Abidin adalah meninggalkan gelar kolano dan menggantinya dengan sultan, Islam diakui sebagai agama resmi kerajaan, syariat Islam diberlakukan, dan membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan melibatkan para ulama. Langkah-langkahnya ini kemudian diikuti kerajaan lain di Maluku secara total, hampir tanpa perubahan. Ia juga mendirikan madrasah yang pertama di Ternate. Sultan Zainal Abidin pernah memperdalam ajaran Islam dengan berguru pada Sunan Giri di pulau Jawa. Di sana dia dikenal sebagai Sultan Bualawa (Sultan Cengkih).


Pengusiran Portugal

Perlakuan Portugal terhadap saudara–saudaranya membuat Sultan Khairun geram dan bertekad mengusir Portugal dari Maluku. Tindak–tanduk bangsa Barat yang satu ini juga menimbulkan kemarahan rakyat yang akhirnya berdiri di belakang Sultan Khairun. Sejak masa sultan Bayanullah, Ternate telah menjadi salah satu dari tiga kesultanan terkuat dan pusat Islam utama di Nusantara abad ke-16 selain Aceh dan Demak setelah kejatuhan Malaka pada tahun 1511. Ketiganya membentuk Aliansi Tiga untuk membendung sepak terjang Portugal di Nusantara.
Tak ingin menjadi Malaka kedua, sultan Khairun mengobarkan perang pengusiran Portugal. Kedudukan Portugal kala itu sudah sangat kuat, selain memiliki benteng dan kantong kekuatan di seluruh Maluku mereka juga memiliki sekutu–sekutu suku pribumi yang bisa dikerahkan untuk menghadang Ternate. Dengan adanya Aceh dan Demak yang terus mengancam kedudukan Portugal di Malaka, Portugal di Maluku kesulitan mendapat bala bantuan hingga terpaksa memohon damai kepada Sultan Khairun. Secara licik gubernur Portugal, Lopez de Mesquita mengundang Sultan Khairun ke meja perundingan dan akhirnya dengan kejam membunuh sultan yang datang tanpa pengawalnya.
Pembunuhan Sultan Khairun semakin mendorong rakyat Ternate untuk menyingkirkan Portugal, bahkan seluruh Maluku kini mendukung kepemimpinan dan perjuangan Sultan Baabullah (1570-1583), pos-pos Portugal di seluruh Maluku dan wilayah timur Indonesia digempur. Setelah peperangan selama 5 tahun, akhirnya Portugal meninggalkan Maluku untuk selamanya pada tahun 1575. Di bawah pimpinan Sultan Baabullah, Ternate mencapai puncak kejayaan, wilayah membentang dari Sulawesi Utara dan Tengah di bagian barat hingga Kepulauan Marshall di bagian timur, dari Filipina Selatan di bagian utara hingga kepulauan Nusa Tenggara di bagian selatan.
Sultan Baabullah dijuluki penguasa 72 pulau yang semuanya berpenghuni hingga menjadikan Kesultanan Ternate sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia timur, di samping Aceh dan Demak yang menguasai wilayah barat dan tengah Nusantara kala itu. Periode keemasaan tiga kesultanan ini selama abad 14 dan 15 entah sengaja atau tidak dikesampingkan dalam sejarah bangsa ini padahal mereka adalah pilar pertama yang membendung kolonialisme Barat.

Kedatangan Belanda


Putra Sultan Ternate bersama seorang controleur dan seorang warga Belanda (sekitar tahun 1900).
Sepeninggal Sultan Baabullah, Ternate mulai melemah, Kerajaan Spanyol yang telah bersatu dengan Portugal pada tahun 1580 mencoba menguasai kembali Maluku dengan menyerang Ternate. Dengan kekuatan baru Spanyol memperkuat kedudukannya di Filipina, Ternate pun menjalin aliansi dengan Mindanao untuk menghalau Spanyol namun gagal, bahkan Sultan Said Barakati berhasil ditawan Spanyol dan dibuang ke Manila.
Kekalahan demi kekalahan yang diderita memaksa Ternate meminta bantuan Belanda pada tahun 1603. Ternate akhirnya berhasil menahan Spanyol namun dengan imbalan yang amat mahal. Belanda akhirnya secara perlahan-lahan menguasai Ternate. Pada tanggal 26 Juni 1607 Sultan Ternate menandatangani kontrak monopoli VOC di Maluku sebagai imbalan bantuan Belanda melawan Spanyol. Pada tahun 1607 pula Belanda membangun benteng Oranje di Ternate yang merupakan benteng pertama mereka di nusantara.
Sejak awal hubungan yang tidak sehat dan tidak seimbang antara Belanda dan Ternate menimbulkan ketidakpuasan para penguasa dan bangsawan Ternate. Diantaranya adalah Pangeran Hidayat (15??-1624), raja muda Ambon yang juga merupakan mantan wali raja Ternate ini memimpin oposisi yang menentang kedudukan sultan dan Belanda. Ia mengabaikan perjanjian monopoli dagang Belanda dengan menjual rempah–rempah kepada pedagang Jawa dan Makassar.

Perlawanan Rakyat Maluku dan Kejatuhan Ternate


Pengawal Sultan Ternate pada tahun 1910-an.

Ngara Lamo, gerbang Istana Kesultanan Ternate pada tahun 1910-an.
Semakin lama cengkeraman dan pengaruh Belanda pada Ternate semakin kuat. Belanda dengan leluasa mengeluarkan peraturan yang merugikan rakyat lewat perintah sultan. Sikap Belanda yang kurang ajar dan sikap sultan yang cenderung manut menimbulkan kekecewaan semua kalangan. Sepanjang abad ke-17, setidaknya ada 4 pemberontakan yang dikobarkan bangsawan Ternate dan rakyat Maluku.
  • Tahun 1635, demi memudahkan pengawasan dan mengatrol harga rempah yang merosot Belanda memutuskan melakukan penebangan besar–besaran pohon cengkeh dan pala di seluruh Maluku atau yang lebih dikenal sebagai Hongi Tochten yang menyebabkan rakyat mengobarkan perlawanan. Pada tahun 1641, dipimpin oleh raja muda Ambon, Salahakan Luhu, puluhan ribu pasukan gabungan Ternate, Hitu dan Makassar menggempur berbagai kedudukan Belanda di Maluku Tengah. Salahakan Luhu kemudian berhasil ditangkap dan dieksekusi mati bersama seluruh keluarganya pada tanggal 16 Juni 1643. Perjuangan lalu dilanjutkan oleh saudara ipar Luhu, Kapita Hitu Kakiali dan Tolukabessi hingga 1646.
  • Tahun 1650, para bangsawan Ternate mengobarkan perlawanan di Ternate dan Ambon, pemberontakan ini dipicu sikap Sultan Mandarsyah (1648-1650,1655-1675) yang terlampau akrab dan dianggap cenderung menuruti kemauan Belanda. Para bangsawan berkomplot untuk menurunkan sultan. Tiga di antara pemberontak yang utama adalah trio pangeran Saidi, Majira dan Kalamata. Pangeran Saidi adalah seorang kapita laut atau panglima tertinggi pasukan Ternate, Pangeran Majira adalah raja muda Ambon sementara Pangeran Kalamata adalah adik sultan Mandarsyah. Saidi dan Majira memimpin pemberontakan di Maluku Tengah sementara Pangeran Kalamata bergabung dengan raja Kesultanan Gowa, Sultan Hasanuddin. Mereka bahkan sempat berhasil menurunkan Sultan Mandarsyah dari tahta dan mengangkat Sultan Manilha (1650–1655), namun berkat bantuan Belanda kedudukan Mandarsyah kembali dipulihkan. Setelah 5 tahun pemberontakan Saidi dkk berhasil dipadamkan. Pangeran Saidi disiksa secara kejam hingga mati sementara Pangeran Majira dan Kalamata menerima pengampunan sultan dan hidup dalam pengasingan.
  • Sultan Muhammad Nurul Islam atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Sibori (1675 – 1691) merasa gerah dengan tindak–tanduk Belanda yang semena-mena. Ia kemudian menjalin persekutuan dengan Datuk Abdulrahman penguasa Mindanao, namun upayanya untuk menggalang kekuatan kurang maksimal karena daerah–daerah strategis yang bisa diandalkan untuk basis perlawanan terlanjur jatuh ke tangan Belanda oleh berbagai perjanjian yang dibuat para pendahulunya. Ia kalah dan terpaksa menyingkir ke Jailolo. Tanggal 7 Juli 1683 Sultan Sibori terpaksa menandatangani perjanjian yang intinya menjadikan Ternate sebagai kerajaan dependen Belanda. Perjanjian ini mengakhiri masa Ternate sebagai negara berdaulat.
Meski telah kehilangan kekuasaan mereka, beberapa sultan Ternate berikutnya tetap berjuang mengeluarkan Ternate dari cengkeraman Belanda. Dengan kemampuan yang terbatas karena selalu diawasi mereka hanya mampu menyokong perjuangan rakyatnya secara diam–diam. Yang terakhir tahun 1914 Sultan Haji Muhammad Usman Syah (1896-1927) menggerakkan perlawanan rakyat di wilayah–wilayah kekuasaannya, bermula di wilayah Banggai dibawah pimpinan Hairuddin Tomagola namun gagal.
Di Jailolo rakyat Tudowongi, Tuwada dan Kao dibawah pimpinan Kapita Banau berhasil menimbulkan kerugian di pihak Belanda, banyak prajurit Belanda yang tewas termasuk Controleur Belanda Agerbeek dan markas mereka diobrak–abrik. Akan tetapi karena keunggulan militer serta persenjataan yang lebih lengkap dimiliki Belanda perlawanan tersebut berhasil dipatahkan, kapita Banau ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung. Sultan Haji Muhammad Usman Syah terbukti terlibat dalam pemberontakan ini oleh karenanya berdasarkan keputusan pemerintah Hindia Belanda, tanggal 23 September 1915 no. 47, Sultan Haji Muhammad Usman Syah dicopot dari jabatan sultan dan seluruh hartanya disita, dia dibuang ke Bandung tahun 1915 dan meninggal disana tahun 1927.
Pasca penurunan Sultan Haji Muhammad Usman Syah jabatan sultan sempat lowong selama 14 tahun dan pemerintahan adat dijalankan oleh Jogugu serta dewan kesultanan. Sempat muncul keinginan pemerintah Hindia Belanda untuk menghapus Kesultanan Ternate namun niat itu urung dilaksanakan karena khawatir akan reaksi keras yang bisa memicu pemberontakan baru sementara Ternate berada jauh dari pusat pemerintahan Belanda di Batavia.
Dalam usianya yang kini memasuki usia ke-750 tahun, Kesultanan Ternate masih tetap bertahan meskipun hanya sebatas simbol budaya.

Warisan Ternate


Istana Kesultanan Ternate di kaki Gunung Gamalama, Kota Ternate.
Imperium Nusantara timur yang dipimpin Ternate memang telah runtuh sejak pertengahan abad ke-17 namun pengaruh Ternate sebagai kerajaan dengan sejarah yang panjang masih terus terasa hingga berabad kemudian. Ternate memiliki andil yang sangat besar dalam kebudayaan nusantara bagian timur khususnya Sulawesi (utara dan pesisir timur) dan Maluku. Pengaruh itu mencakup agama, adat-istiadat dan bahasa.
Sebagai kerajaan pertama yang memeluk Islam, Ternate memiliki peran yang besar dalam upaya pengislaman dan pengenalan syariat-syariat Islam di wilayah timur nusantara dan bagian selatan Filipina. Bentuk organisasi kesultanan serta penerapan syariat Islam yang diperkenalkan pertama kali oleh Sultan Zainal Abidin menjadi standar yang diikuti semua kerajaan di Maluku hampir tanpa perubahan yang berarti.
Keberhasilan rakyat Ternate di bawah Sultan Baabullah dalam mengusir Portugal pada tahun 1575 merupakan kemenangan pertama pribumi nusantara atas kekuatan barat, oleh karenanya Buya Hamka bahkan memuji kemenangan rakyat Ternate ini telah menunda penjajahan barat atas bumi nusantara selama 100 tahun sekaligus memperkokoh kedudukan Islam, dan sekiranya rakyat Ternate gagal niscaya wilayah timur Indonesia akan menjadi pusat kristen seperti halnya Filipina.
Kedudukan Ternate sebagai kerajaan yang berpengaruh turut pula mengangkat derajat Bahasa Ternate sebagai bahasa pergaulan di berbagai wilayah yang berada dibawah pengaruhnya. Prof E.K.W. Masinambow dalam tulisannya, "Bahasa Ternate dalam konteks bahasa-bahasa Austronesia dan Non Austronesia" mengemukakan bahwa bahasa Ternate memiliki dampak terbesar terhadap bahasa Melayu yang digunakan masyarakat timur Indonesia. Sebanyak 46% kosakata bahasa Melayu di Manado diambil dari Bahasa Ternate. Bahasa Melayu Ternate ini kini digunakan luas di Indonesia Timur terutama Sulawesi Utara, pesisir timur Sulawesi Tengah dan Selatan, Maluku dan Papua dengan dialek yang berbeda–beda.[9]
Dua naskah surat sultan Ternate, dari Sultan Abu Hayat II kepada Raja Portugal tanggal 27 April dan 8 November 1521 diakui sebagai naskah Melayu tertua di dunia setelah naskah Melayu Tanjung Tanah. Kedua surat Sultan Abu Hayat tersebut saat ini masih tersimpan di Museum Lisabon, Portugal.[10][11][12]

Lihat Pula

Referensi

Daftar Pustaka

  • M. Adnan Amal, "Maluku Utara, Perjalanan Sejarah 1250 - 1800 Jilid I dan II", Universitas Khairun Ternate 2002.
  • Willard A. Hanna & Des Alwi, "Ternate dan Tidore, Masa Lalu Penuh Gejolak", Pustaka Sinar Harapan Jakarta 1996.
  • Abdul Hamid Hasan, “Ternate dari abad ke abad”, Ternate 1987.

Kamis, 19 November 2015

Windows 10 Pro Core ISO 32-64 Bit Free download

Buat teman2 yang belum punya dan ingin mendapatkan Windows 10 pro Core ISO 32, silahkan download diblog Aku :
Windows 10 Pro Core ISO 32 64 Bit Download For FreeWindows 10 Pro Core ISO 32 64 Bit Free DownloadWindows 10 Pro Core ISO 32 64 Bit Latest Version Download copyWindows 10 Pro Core ISO 32 64 Bit Offline Installer DownloadWindows 10 Pro Core ISO 32 64 Bit Direct Link Download


                                                              








 klik disini untuk download :
                                                       
by :Fatima Alfridi


Sabtu, 14 November 2015

Microssoft office 2016 professional plus 32-64 free download

Semakin tahun berganti semakin canggih perubahan yang terjadi, Buat kamu yang belum memiliki office 2016, anda beruntung mengunjungi blog saya. disini anda bisa download office terbaru 2016 secara gratis..!!! berikut saya tampilkan fitur-fitur office 2016
Microsoft Office Professional Plus 2016 32 64 Bit ISO Offline Installer Download Microsoft Office Professional Plus 2016 32 64 Bit ISO Free Download MSDN











Microsoft Office Professional Plus 2016 32 64 Bit ISO Direct Link Download

Download klik disini :

softwares/office-tools/office-2016-professional-plus-32-64-bit-iso-free-download/

Kamis, 12 November 2015

download gratis windows 10

Buat teman-teman yang belum memiliki WINDOWS 10 silahkan download disini, gratis koq....! tentunya koneksi internet anda harus kuat.... teman-teman juga bisa mendownload WINDOWS SEVEN - WINDOWS 8 - WINDOWS 8,1 dlan lain-lain.
SILAHKAN DOWNLOAD-KILK DISINI :
download gratis windows 10  
data-recovery-free-download
windows-7-ultimate-free-download-iso-32-64-bit/