Selasa, 26 Februari 2019

“MAKNA FORT ORANJE CULTURAL DAN JAZZ FESTIVAL 2019.”


[Jazz, Nalar dan Demokrasi]
oleh : Syaiful Bahri Ruray
Kafe Jakofi, 12 Februari 2019.
 

NKRI -  Ternate - Pada 22 dan 23 Februari 2019 kemarin, telah sukses di gelar perhelatan musik bernuansa jazz di benteng Oranje. Benteng ini dipilih karena ia merupakan sebuah titik awal pertautan kultural antara timur dan barat di nusantara. Benteng Oranje di bangun oleh  Cornelis Metalief de Jonge pada 26 Mei 1607 dan di selesaikan oleh Francois Wittert pada 1609. Awalnya benteng ini adalah benteng melayu, dimana para pedagang melayu sering menempatinya ketika mereka berdagang rempah- rempah di Ternate. Ternate sendiri adalah titik awal Bandar jalur sutera karena perdagangan rempah-rempah nusantara dengan manca negara.


Sebelum kedatangan bangsa Belanda ke Ternate, yang diawali oleh Jacob Corneliszoon van Neck [1588], dan disusul Wijbrand van Warwijk [1599], Ternate telah dikunjungi bangsa Portugis [1512], Spanyol [1521] dan Inggris [1579].Tercatat pelaut Inggris Francis Drake, yang memasuki perairan Moti pada 3 November 1579, kemudiandipandu Sangaji Moti, memasuki dermaga Talangame [Bastiong], Ternate pada 4 November 1579.Armada Inggris ini sempat menerima kunjungan Sultan Babullah di atas kapal bendera Golden Hind pada 6 November 1579, dimana Babullah disambut resmi oleh seluruh perwira kapal dengan penghormatan penuh berupa 12kalitembakan salvo dan kemudian di iringi oleh korps musik[brass music]eskader Inggris yang berjumlah 5 kapal tersebut. Inilah alunan musik brass Inggris yang pertama kali tercatat diperdengarkan di nusantara.
Adapun jauh sebelumnya, para pedagang Cina, Arab, Gujarat-India, Jawa dan Melayu telah menjadikan Ternate sebagai Bandar perdagangan rempah-rempah mereka. Benteng Oranje sendiri adalah  bekas benteng melayu itu kemudian di ubah menjadi markas besar VOC se Asia Tenggara dimana Ternate sempat dipimpin oleh 4 Gubernur Jenderal Belanda, masing- masing Pieter Both, Laurens Reael, Gerard Reinst dan Jan Pieterzon Coen. Pada periode Gubernur Jenderal Belanda ke empat Jan Pieterzon Coen, barulah VOCmemindahkan ibukota dari  Ternate ke Jakarta dan merubah Jakarta menjadi Batavia pada 1619.

Kita dapat bertanya kenapa harus Ternate menjadi pusat perhatian? Karena magnet  cengkih ternyata luar biasa. Artefak cengkih telah ditemukan pada peninggalan arkeologis Terqa Mesopotamia (Syria) pada 1700 SM. Pada milenium pertama SM, era China, India hingga Romawi, cengkih telah diperdagangkan. Bangsa China adalah manusia pertama yang memperdagangkan cengkih ke seantero dunia. Tidak mengherankan jika sejarawan Profesor A.B.Lapian menyatakan jalur sutera atau silk road itu, sebenarnya berawal dari Ternate atau Maluku. Jalur tersebut secara historis sepantasnya disebut the spices road atau jalur rempah-rempah. Karena melalui perdagangan rempah-rempah itulah terjalin peradaban kuno sejak Dinasti Han (220-206 SM) hingga hari ini kita mengenal dengan istilah globalisasi.

Benteng Oranje, dengan demikian adalah sebuah monumen globalisasi dimana terjadi puncak pertautan peradaban antara timur dan barat. Pertautan peradaban itu, juga memiliki makna imperialisme, kolonialisme, bahkan juga menghasilkan Indonesia modern yang kita kenal sebagai negara bangsa dewasa ini. Bukankah negara ini ada sebagai kelanjutan dari Hindia Belanda dan dibentuk berdasarkan Traktat London,1824 itu. Karena tanpa kolonialisme, nusantara adalah hamparan kerajaan-kerajaan yang tidak terikat satu sama lainnya. Kolonialisme pada sisi lain, ternyata telah mempersatukan kita dalam sebuah nation state [negara bangsa] Indonesia. Tidaklah mengherankan jika Ben Anderson menyebut negara terbentuk dari imagined communities.
Dalam konteks itulah benteng Oranje sebagai monumen kultural,  melatarbelakangi teman-teman musisi Maluku Utara memilihnya sebagai tempat perhelatan musik jazz yang pertama diadakan di kota rempah-rempah, Ternate ini.

Ternate sendiri, sebagai pusat peradaban bangsa-bangsa pada masa lalu, tentu telah mengalami banyak akulturasi dam asimilasi kultural, termasuk seni musik dalan kebudayaan lokalnya. Kita bisa menemukan tarian ‘dadanza’ peninggalan Spanyol, termasuk peninggalan Portugis berupa polka, katreji dan mazurkas di Labuha, Bacan, sebagaimana ditulis ilmuwan Inggris Alfred Russel Wallace dalam magnum opusnya Malay Archipelago. Ternate sebelum kemerdekaan pun pernah memiliki kelompok brass musik dari Kalumpang dan Santiong yang dinamakan“Tessor.”Karena grup brass musik ini pemain terompet dan saxophone nya rata-rata berasal dari keluarga Tess dan Assor. Grup ini konon pernah menerima persembahan seperangkat alat tiup dari Ratu Belanda Juliana. Mereka ini adalah musisi alamiah, berbakat tanpa dipoles pendidikan musik secara formal melalui sebuah konservatorium sebagaimana kota-kota besar di Eropa. Dua kampung ini hingga kini masih menyisakan blower musik tiup kesohor. Sebutlah nama Alm. Karim Tess, seorang trumpetis jazz kawakan yang pernah mendampingi “Ireng Maulana All Star.” Mereka juga pernah mewakili Indonesia pada berbagai festival jazz level dunia seperti North Sea Jazz Festival di Den Haag, Belanda.Juga nama Amri Kahar (Muraji Tess), seorang blower group band Black Brothers yang sekarang menetap di negeri Belanda. Ternate tempo doeloe juga pernah memiliki orkes El-Morgam yang sangat kesohor pada zamannya.

Pada era 1960-an hingga 1970-an kelompok musik Ternate ini juga membentuk sebuah group band yang cukup kesohor di Jakarta bernama “The Tankers.” Band ini memang terdiri dari pasukan brass musik Kalumpang dan Santiong, dimana mereka adalah karyawan PN. Pertamina divisi perkapalan [tongkang], dibawah Direktur Utama PN. Pertamina Ibnu Sutowo. Sebutlah nama-nama pemain The Tankers seperti Alm. Zainal Tess, dan Anwar Tess yang sekarang pesiunan Pertamina, namun masih giat sebagai musisi senior yang menenteng trumpet kemana-mana. The Tankers pada era 1970-an bahkan bermain sebagai homeband pada Ramayana Bar milik Pertamina di New York, Amerika Serikat. Biduan senior Bob Tutupoly, adalah penyanyi merangkap mc pada Ramayana Bar tersebut.
Adapun warna musik di Ternate, memang sedikit bernuansa latin dan kaya akan perkusi. Saya melihat faktor akulturasi Portugis dan Spanyol turut mewarnai kebudayaan lokal kita di Maluku Utara. Sebagaimana hal yang sama dapat ditemui pada keroncong Tugu di Jakarta yang notabene adalah peninggalan Portugis. Di Ternate kita bisa melihat warna pada karya-karya klasik seperti beberapa gubahan Engku Doel Syafar (Drs. A.K Syafar), misalnya dalam lagu Rosi Seli dan Demo Madero yang bernuansa latin. Beliau juga mengarang lagu Naro Oti, Cala Ibi dan Borero yang sangat melegenda hingga sekarang. Juga karya Abdullah Baay seperti lagu Cangkole, bisa diaransemen menjadi latin-funky dengan perkusi yang kuat. Abdullah Baay juga mengarang Una Kapita yang popular dimana-mana. Saya pernah menonton dari jarak dekat Tess Brothers dalam sebuah perhelatan keluarga, membawakan lagu “Moku-Moku Sose” dalam balutan brass dan perkusi yang sangat kaya. Lagu ini dibawakan Karim Tess, Anwar Tess dan kawan-kawan dengan nuansa jazz. Juga dalam sebuah rekaman lama penyanyi Melky Goeslaw, ia pernah membawakan lagu “Lala Yon” yang di iringi Yopie Item Band dengan aransemen latin jazz.

Musisi jazz Ternate dapat ditelusuri hingga Jogja, tercatat Wahyudi Nachrawy (alm), seorang guitarist jazz di Jogja yang cukup kesohor hingga akhir hayatnya. Ia menjadi leader pada homeband Stasiun TVRI Jogja pada era 1980-an sebelum maraknya stasiun televise swasta. Dari ayahanda Wahyudi Nachrawi, Alm.Haji Ismail Nachrawi, pendiri group band The Indras, beliau menyampaikan kepada saya bahwa sejak awal beliau membentuk band The Indras pada akhir 1970-an,sebenarnya diniatkan sebagai band jazz. Memang Ismail Nachrawy sejak muda adalah musisi jazz di kota Makassar sezaman dengan orang tua penyanyi jazz Drg.Rien Jamain. Beliau seangkatan dengan Jack Lesmana [Jack Lemmers] dan Bubby Chen pada era 1950-an. Ismail Nachrawy sendiri adalah seorang pemain bass guitar yang handal.

Nakh, benang merah panjang pertautan peradaban antar bangsa di Ternate ini, yang akan ditampilkan dalam de Fort Oranje Cultural & Jazz Festival 2019. Kita semua tahu bahwa tahun 2019, ditandai sebagai tahun politik. Tahun dimana menjadikan bangsa ini sering lupa akan kebudayaan dan seni karena semuanya pada terpana dengan politik yang kian memanas.  Kitapun terkooptasi habis dalam ujaran hate-speech[ujaran kebencian] dan hoax yang penuh muslihat di ruang publik antara lawan politik satu dan yang lainnya. Namun ternyata masih ada sekelompok anak muda seniman dan budayawan di Ternate, yang mau berkumpul dan menampilkan sesuatu yang lain diluar gonjang - ganjing politik yang destruktif. Mereka seakan tampil untuk memelihara nalar dan kewarasan berpikir kita melalui festival ini.

Memang kita kadang lupa, bahwa musik jazz itu sangat terkait erat dengan makna demokrasi yang sesungguhnya. Karena jazz menghadirkan kebebasan improvisasi dari berbagai orang dan berbagai instrumen, tanpa kehilangan ritme dan tempo serta harmoni. Jazz bukanlah lagu koor dimana semuanya harus searah dan sama, karena berbeda berarti kesalahan alias fals. Yang memaksakan kebersamaan adalah tindakan otoritarian, bukanlah demokrat sejati. Jika bisa kita bedakan mana demokrasi dan mana bukan dalam perspektif seni. Maka jazz sejatinya adalah sesuatu yang demokratis. Seandainya saja setiap elite politik negeri ini, dapat mengapresiasi musik jazz, saya yakin demokrasi pun akan berjalan mulus tanpa benturan kemanusiaan. Karena musik adalah makanan bathin yang akan memperkaya nurani dan memperhalus rasa. Tanpa kekayaan nurani dan kehalusan rasa, kita adalah “homo homini lupus, bellum omnium contra omnes” [manusia adalah serigala bagi yang lainnya, akan memakan satu sama lainnya], sebagaimana dikatakan Thomas Hobbes dalam Leviathan.Filsuf Aristoteles juga mengatakan bahwa manusia adalah mahluk zoon politicon, atau binatang politik.

Adapun jazz sendiri memang berkembang seiring irama blues, dari kaum hitam yang tertekan di Amerika. New Orleans adalah kota asalnya. Justru itu ia bukan musik gedongan atau milik kaum the have. Karena jazz, demikian juga blues, sebenarnya adalahsimbol perlawanan terhadap ketertindasan manusia, exploitation l’homme par l’homme tadinya. Ia adalah simbol kemerdekaan kemanusiaan yang sesungguhnya.

Dan Fort Oranje Jazz Festival di Ternate ini, adalah sebuah agenda yang monumental, seyogyanya dijadikan even tahunan bagi Kota Ternate dengan menampilkan warna sejarahnya yang sangat kaya tersebut. Kita tahu bahwa Ternate akan melaksanakan even ekspedisi rempah-rempah, sebagaimana telah dicanangkan Pemerintah Kota Ternate. Lalu akan dibentuk “East and West Cultural Center and Conservatorium” di Ternate yang digagas Dirjen Kebudayaan Profesor Hilman Farid. Bahkan teman-teman lain akan mendeklarasikan terbentuknya Komunitas Wallacea Ternateuntuk mengenang Alfred Russel Wallace, di samping Komunitas Jazz Ternate. Belum lagi Tidore akan menjadi tuan rumah bagi perayaan 500 tahun ‘Eksepdisi Magellan’ keliling dunia, kegiatan mana melibatkan 10,000 lebih pengunjung dari 23 kota dan 12 negara tersebut. Tentu semuanya bukan tidak mungkin membutuhkan suguhan kebudayaan dan seni yang kuat cita rasa peradabannya. Para partisipan Ekspedisi Magellan ini akan menetap selama 40 hari di Maluku Utara. Untuk itu, makna festival kali ini, bukan sekadar sebuah even kosong, karena akan mengantar Maluku Utara menjadi destinasi wisata yang layak dikunjungi oleh manca negara, disamping anak negerinya sendiri belajar mencapai cita rasa peradaban dunia di negerinya sendiri. Sebagaimana fungsi Ternate dari abad ke abad. Jogja misalnya memiliki Bromo Jazz Gunung setiap tahunnya pada setiap Juli dimana perhelatan dilaksanakan di alam terbuka. Bromo Jazz Gunung telah berlangsung sepuluh tahun. Demikian juga Bali, memiliki event jazz tahunan Ubud Village Jazz Festival, sebagai  pagelaran jazz bertaraf internasional setiap tahunnya pada setiap Agustus untuk menarik wisatawan dunia. Ini telah berlangsung sejak 2010. Mereka memadukan kearifan lokal dengan nuansa jazz. Kota Makassar pun tak mau kalah, menyelenggarakan Makassar Jazz Festival selama sembilan tahun terakhir di Benteng Rotterdam, Makassar. Pagelaran jazz ini dikaitkan dengan hari ulang tahun Kota Makassar pada setiap November. Kota-kota ini juga telah membentuk Komunitas Jazz masing-masing.

Pada Oranje Jazz Festival ini selain menampilkan grup lokal anak negeri, juga menghadirkan bintang tamu musisi jazz nasional seperti Otti Jamalus dan Yance Manusama serta drummer Deska Anugrah Samudra. Otti dan Yance sendiri adalah pemilik sekolah musik jazz di sebuah kawasan elite di Jakarta. Otti Jamalus memang berdarah Ternate. Adapun Yance Manusama, seorang bassist jazz terbaik Indonesia ini, orang tuanya gugur di Halmahera sebagai perwira TNI dalam peristiwa Permesta. Tidak mengherankan jika Kesatrian Pasukan Infateri TNI di Akediri, Jailolo, mengabadikan nama Kesatrian Jance Manusama. Nama tersebut mengabadikan nama Mayor TNI Jance Manusama yang gugur di Sungai Tiabo, Halmahera.

Sekitar tahun 2000-an, menonton jazz seperti Ireng  Maulana, Kiboud Maulana dan Yance Manusama, maupun Otti Jamalus, dan Karim Suweleh hanya bisa kita nikmati di klub jazz Jamz, awalnya di sudut Panglima Polim, Jakarta lalu berpindah ke kawasan Semanggi, Jakarta. Sayangnya klub ini sekarang telah bubar. Atau pada Executive Jazz Club The Black Cat, Kawasan Senayan.
Adapun perhelatan jazz akbar seperti Jakarta International Java Jazz Festival setahun sekali diadakan pada setiap awal Maret.Saya selalu mengikutinya sejak awal perhelatan akbar tersebut pada 2004. Beberapa waktu lalu, saya sempat bertandang ke KBRI Warsawa, Polandia dan bertemu Duta Besar Indonesia untuk Polandia, Peter Gontha, seorang pebisnis dan musisi jazz serta promotor Jamz sekaligus penggagas perhelatan akbarJava Jazz Festival. Melalui tangan dingin Peter Gontha, ia pernah mendatangkan Tania Maria dan James Brown pada Java Jazz pertama 2004 di Covention Hall Jakarta. Peter juga sempat menghadirkan Carlos Santana dan George Benson di arena Java Jazz, Kemayoran Jakarta. Saya menyampaikan bahwa jazz harus terus digalakkan demi terwujudnya demokrasi dan akal sehat. Sebaliknya tanpa jazz demokrasi pun akan redup bahkan mati suri, karena kita bakal kehilangan akal sehat. (*)

Minggu, 04 Juni 2017

Ganda Putra dan Ganda Putri Indonesia Juarai Thailand Terbuka.


Jakarta (ANTARA News) - Indonesia memastikan mendapatkan satu dari tiga peluang gelar pada turnamen bulu tangkis Thailand Terbuka 2017 setelah pasangan ganda putri Greysia Polii/Apriani Rahayu menaklukkan wakil tuan rumah Chayanit Chaladchalam/Pathaimas Muenwong dua game langsung 21-12, 21-12.

Pada game pertama  partai final di Nimibutr Stadium, Bangkok, Greysia/Apriani sempat tertinggal 5-8. Tetapi membalikkan keadaan setelah meraih lima angka beruntun sampai balik memimpin 10-8.  Mereka berhasil menjaga momentum permainan dan menutup game ini dengan 21-12.

Memasuki game kedua, Greysia/Apriani tak membiarkan lawan mengembangkan permainan sampai unggul 11-7 untuk kemudian menutup laga, juga dengan 21-12.

Kemenangan pasangan baru ini menjawab target yang dibebankan kepada keduanya untuk meraih gelar dan sekaligus memberikan sinyal positif untuk bulu tangkis Indonesia.
Pasangan Berry Angriawan/Hardianto menyusul ganda putri Greysia Polii/Apriani Rahayu menjuarai Thailand Terbuka 2017, setelah menyudahi perlawanan ganda putra  Jerman, Raphael Beck/Peter Kaesbauer, pada final di Nimibutr Stadium, Bangkok.

Pasangan Indonesia ini hanya perlu waktu 38 menit untuk mengakhiri petualangan pasangan Jerman.

Pada awal game pertama, mereka unggul cepat 11-5, namun sempat ditempel ketat pada 15-17. Tetapi, mereka akhirnya kembali ke permainan mereka untuk menutup game ini dengan 21-16.

Pada game kedua, Berry/Hardianto tak mau kehilangan momentum dengan bermain cepat dan cantik di depan net untuk menekan Raphael/Peter sampai unggul jauh 11-6 sampai kemudian menyudahi perlawanan mereka pada 21-16.

Ini adalah gelar kedua bagi Indonesia pada turnamen Grand Prix Gold ini setelah Greysia Polii/Apriyani Rahayu menundukan pasangan tuan rumah Chayanit Chadalam/Phataimas Muenwong.

Gelar ini pun menjadi gelar grand prix gold kedua Berry/Hardianto setelah menjuarai Malaysia Masters 2017 lalu.

Indonesia masih berpeluang menambah gelar dari nomor tunggal putra melalui Jonatan Christie yang akan berhadapan dengan Sai Praneeth B dari India.

Tunggal putri menjadi milik wakil tuan rumah Ratchanok Intanon yang mengatasi Busanan Ongbamrungpan dengan 21-18, 12-21, 21-16.

Sumber  :
http://www.antaranews.com/

Sabtu, 29 April 2017

Merauke, Adalah Kota Cantik Gerbang Timur Indonesia.




Dari sejarah, diketahui merauke ditemukan pada tanggal 12 Februari 1902. Orang yang pertama menetap di sana adalah pegawai pemerintah belanda. Mereka mencoba untuk hidup di antara dua suku asli yaitu Marind Anim dan Sohoers. Mereka berjuang keras melawan keganasan alam (termasuk pemburu kepala). Lama kelamaan tempat tersebut mengalami pertumbuhan yang sangat cepat sehingga menjadi sebuah "kota". Jauh di eropa, para wanita suka memakai hiasan bulu dari burung dari khayangan "Cendrawasih" di topi mereka.
Dari Merauke orang Indonesia, Eropa dan Cina, mulai untuk "menyerbu" hutan di selatan nugini untuk memburu burung sebanyak mungkin. Ketika pemerintah Belanda melarang perburuan, mereka semua kembali ke Merauke untuk menghabiskan uang yang mereka dapatkan. Hal ini yang menyebabkan mengapa di kemudian hari populasi penduduk di Merauke tidak banyak, ini dikarenakan Merauke adalah kota untuk para pendatang (orang asing). Namun sekarang, banyak penduduk asli Papua yang mulai menetap di Merauke. Asal mula nama "Merauke" sebenarnya berasal dari sebuah salah paham yang dilakukan oleh para pendatang pertama. Ketika para pendatang menanyakan kepada penduduk asli apa nama sebuah perkampungan , mereka menjawab " Maro-ke" yang sebenarnya berarti "itu sungai Maro". Orang Marind berpikir bahwa sungai maro(yang lebarnya 500m) lebih penting dari nama area tempat sebuah hutan yaitu Gandin. Penduduk asli papua sendiri menyebut area tempat kampung tersebut terletak dengan mana " Ermasoek".


Secara politis administratif, kota Merauke dulunya merupakan pos pemerintah Belanda yag digunakan sebagai transit bagi para republikan untuk menuju Boven Digoel. Setelah wilayah Irian Jaya berintegrasi dengan Pemerintah Belanda tahun 1963, kemudia kota tersebut ditetapkan sebagai Ibukota Kabupaten Dati II Merauke dan setelah periode Penentuan Pendapat Rakyat (1963-1969), mulai tumbuk beberapa kelompok permukiman yang dipacu dengan adanya kemudahan-kemudahan suatu kota.

Pembagian Administratif

Kecamatan di Kabupaten Merauke adalah:

Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Merauke per tanggal 31 Desember 2012, menurut pendataan dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil berjumlah 246.852 Jiwa. Dari jumlah tersebut, Penduduk laki-laki mencapai 130.514 Jiwa dan perempuan mencapai 116.338 Jiwa. Jumlah Kepala Keluarga tercatat sebanyak 60.406 KK. Jumlah penduduk terbanyak terdapat di Distrik Merauke yang jumlahnya mencapai 115.359 Jiwa. Jumlah penduduk terkecil terdapat di Distrik Kaptel dengan jumlah penduduk sebanyak 1.833 Jiwa. Data tersebut dapat disajikan pada tabel berikut ini :


No NAMA DISTRIK LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH PENDUDUK JUMLAH KK
1 MERAUKE 60.869 54.490 115.359 27.209
2 MUTING 2.978 2.722 5.700 1.359
3 OKABA 2.734 2.433 5.167 1.182
4 KIMAAM 3.739 3.415 7.154 1.586
5 SEMANGGA 8.560 7.644 16.204 4.402
6 TANAH MIRING 10.933 9.571 20.504 5.341
7 JAGEBOB 4.941 4.239 9.180 2.551
8 SOTA 2.085 1.830 3.915 935
9 ULILIN 2.661 2.298 4.959 1.262
10 ELIKOBEL 2.545 2.112 4.657 1.157
11 KURIK 8.441 7.445 15.886 4.306
12 NAUKENJERAY 1.205 1.135 2.340 540
13 KAPTEL 936 897 1.833 375
14 TUBANG 1.486 1.366 2.852 673
15 NGGUTI 1.124 1.008 2.132 436
16 TABONJI 3.019 2.766 5.785 1.370
17 WAAN 2.332 2.158 4.490 1.085
18 ILWAYAB 3.047 2.584 5.631 1.304
19 MALIND 5.614 5.071 10.685 2.820
20 ANIMHA 1.265 1.154 2.419 513

Transportasi


Peta Infrastruktur Kabupaten Merauke (2012)
Untuk menuju ke Kota Merauke (Kota Rusa) bisa ditempuh dengan menggunakan kapal laut (Kapal Pelni) dan juga melalui transportasi udara yang dilayani oleh Meskapai Garuda Indonesia, Sriwijaya Air dan Lion Air.
Kota Merauke terkenal dengan sebutan Kota Rusa dikarenakan dahulu hewan jenis ini banyak sekali ditemukan di kota ini, perburuan rusa besar besaran akhir akhir ini di Pulau Kimaam, Distrik Ngguti, Distrik Okaba dan sekitarnya dikhawatirkan akan memusnahkan populasi hewan ini. Selain itu terdapat binatang-binatang asli Papua lainnya, seperti kangguru merah, burung pelikan, kasuari, kuskus, tikus berkantung , kura kura, kasuari, kakatua dan sebagainya. Perdagangan satwa satwa ilegal juga merupakan ancaman bagi kelestarian hewan hewan itu.

Dilihat dari kondisi geografi, sejarah, ekonomi dan budaya, Kota Merauke memiliki beberapa keistimewaan dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Pulau Papua. Secara geografi, kota Merauke adalah salah satu kota paling timur di Indonesia, sekaligus berbatasan dengan Negara (Papua New Guinea).
Di kota Merauke terdapat sebuah tugu yang merupakan kembaran dari tugu yang terdapat di Sabang, yaitu Tugu Sabang-Merauke. Tugu ini dibangun sebagai simbol Kesatuan Negara Republik Indonesia dari Sabang (Aceh) sampai Merauke (Papua). Tugu Sabang-Merauke ini bisa kita jumpai di Distrik Sota, yaitu sebuah daerah yang terletak di sebelah timur kota Merauke. Untuk menuju ke Sota kita bisa menggunakan kendaraan roda empat.


Perekonomian di kota Merauke termasuk berkembang. Kapal-kapal yang memuat kebutuhan pokok penduduk Kabupaten Merauke berdatangan dari Pulau Jawa, namun untuk kembali ke Pulau jawa kapal-kapal ini tidak memuat barang muatan. Terjadi juga transaksi dagang antara penduduk Merauke dengan penduduk Negara tetangga PNG yang datang ke daerah kabupaten Merauke (Pelintas Batas) khusus untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Masalah Flu Burung yang sering terdengar di media masa Indonesia seperti tidak terlihat di Pulau Papua khususnya di kota terujung sebelah timur Indonesia ini. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kurangnya akses transportasi ke daerah terujung timur Indonesia ini.
Terdapat berbagai sub marga dari Suku Marind-anim tersebut, yaitu:
  1. Kaize
  2. Gebze
  3. Balagaize
  4. Mahuze
  5. Ndiken
  6. Basik-basik

Wisata Alam

Taman Nasional Wasur


Taman Nasional Wasur adalah sebuah taman nasional yang di mana bentuknya berupa lahan basah, dan lahan basah ini merupakan lahan basah yang paling luas yang berada di Papua ataupun Irian Jaya namun Taman Nasional Wasur memiliki sedikit gangguan karena aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Lahan Basah yang ada di Taman Nasional Wasur merupakan lahan basah yang memiliki banyak fungsi penting diantaranya lahan basah ini menyediakan kebutuhan pangan yang cukup bagi ekosistem yang bernilai tinggi seperti kepiting, udang, dan ikan. Selain itu lahan basah ini juga berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi ekosistem yang ada di dalamnya.Taman Nasional Wasur di Merauke lebih dikenal dengan sebutan "Serengiti Papua".

Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Halaman_Utama

Jumat, 28 April 2017

Pulau Masela Kab. Maluku Barat Daya Adalah Wilayah Terluar NKRI yang Berbatasan Langsung dengan Australia dan Timor Leste, di Pulau inilah Potensi Gas Alam Cair (LNG) terbesar di Asia



Pulau Masela terletak di Kecamatan Babar Timur Kabupaten Maluku Barat Daya Provinsi Maluku, pada posisi koordinat Lintang Selatan 8° 12′ 29″ dan Bujur Timur 129° 49′ 32″ yang memiliki Titik Dasar 108 dan Titik Referensi 108. Pulau Masela merupakan pulau kecil terluar yang berbatasan dengan Negara Timor Leste dan wilayah perairan Australia.

Akses menuju Pulau Masela dimulai dari Ambon menggunakan pesawat perintis menuju Saumlaki (Ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat), sesampainya di Saumlaki dilanjutkan dengan perjalanan laut dengan menempuh 3 sampai 4 jam menyesuaikan kondisi laut. 


Perairan lepas pantai Pulau Masela memiliki potensi gas alam cair (LNG/Liquid Natural Gas) yang dikenal dengan “Blok Masela”. Perairan ini rawan konflik mengingat letaknya berbatasan dengan Timor Leste dan Australia.  Eksploitasi LNG di Pulau Masela itu tepatnya di sebelah timur dari Timor Leste yang lebih dekat dengan Papua. Kekayaan alam yang melimpah di dasar laut Pulau Masela harusnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat tentunya dengan tidak meninggalkan kelestarian lingkungan.






Pemerintah tengah mencari lokasi yang tepat untuk pengembangan proyek Blok Masela di Maluku. Saat ini, ada beberapa pilihan lokasi untuk pembangunan kilang pengolahan gas dan fasilitas pendukung megaproyek tersebut.

Presiden Joko Widodo di Bandar Udara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu, 24 Maret 2016, mengumumkan, Blok Masela diolah di darat. Polemik apakah Blok Masela diolah di darat atau di laut selesai.

Kamis, 20 Maret 2016, dalam acara makan siang di Istana Merdeka, Presiden menjelaskan manfaat pengelolaan Blok Masela untuk kemakmuran bangsa kepada tiga wartawan.


 
 

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi menerangkan, ada tujuh pulau yang menjadi opsi lokasi pembangunan kilang darat Blok Masela. Dua pulau berada di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, yakni Pulau Selaru dan Yamdena. Sedangkan dua pulau lainnya berada di Kabupaten Maluku Barat Daya, yaitu Pulau Babar dan Pulau Masela.


Sumber :
 http://zafrian.blogspot.co.id/ 
 http://katadata.co.id/berita/2016/06/22/skk-migas-cari-600-hektare-lahan-untuk-proyek-blok-masela

 

Rabu, 26 April 2017

Catatan Harian Seorang Bocah Penghafal Al-Qur'an, Sebelum Menghembuskan nafas Terakhir.

Johor - Malaysia - Seorang santri di Malaysia, Mohd Thaqif, yang kedua kakinya diamputasi akibat dipukuli oleh staf sekolah, dilaporkan meninggal.
Anak laki-laki berusia 11 tahun itu mengalami koma, setelah diduga mengalami penyiksaan.
Dugaannya, bocah itu dipukuli dengan pipa air oleh seorang asisten pengasuh di sebuah madrasah swasta di Kota Tinggi, Negara Bagian Johor.
Sebelum mengembuskan nafas terakhir, bocah ini telah dijadwalkan menjalani amputasi tangan.
Sang ayah mengukuhkan kematian putranya, Rabu (26/4/2017).
Pada saat itu anggota keluarga sedang menggelar doa untuk memohon kesembuhan.
Demikian dikatakan sang ayah seperti dilaporkan surat kabar The Star.
Sebelum meninggal, Thaqif sempat menuliskan catatan harian tentang pemukulan yang dialaminya di sekolah tahfiz tersebut bulan lalu.


Catatan harian itu ditulis hanya dua bulan setelah sang ibu mengirimkannya ke asrama di madrasah tersebut.
Bibi Thaqif, Dzuraidah Ahmad (38), mengatakan keponakannya tersebut sempat mengadu ke ibunya tentang pemukulan yang dialami.
Aduan tersebut sama dengan yang tertulis di catatan harian Thaqif.
Dikatakan, mereka rela mendapat giliran pertama untuk dipukuli agar bisa tidur cepat karena harus bangun pukul tiga pagi untuk shalat subuh.
“Keponakan saya mengatakan terkadang dirinya dan temannya menjadi relawan untuk dipukul lebih dulu sebelum tidur," ujar Dzuraidah seperti dilansir dari Freemalaysiatoday.com, Kamis (27/4/2017).
“Dia (Thaqif) menuliskan bagaimana dirinya dipukul tanpa alasan, dan dia mengaku tidak tahan dengan perlakuan serta minta untuk dipindah ke sekolah lain," kata Dzuraidah.



Catatan harian korban menyebut, jika seorang siswa membuat kesalahan di sekolah swasta itu, maka seluruh santri akan dihukum.
Salah satu tulisan di catatan harian tersebut menyebut sosok staf sekolah yang menyiksa dirinya hingga koma.
"Ya Allah, tolong bukakan hati orangtua saya untuk mengizinkan saya pindah ke sekolah lain, karena saya sudah tidak tahan. Tolong ya Allah, kabulkan keiningan saya," demikian potongan catatan harian Thaqif seperti dikutip The Star.

Menanggapi kasus ini, kepolisian setempat mengatakan, korban bersama 14 teman sekelasnya dipukuli dengan selang air pada tanggal 24 Maret, karena membuat gaduh di aula sekolah.
Kepala sekolah menolak memberikan keterangan terkait dugaan pemukulan itu dengan alasan polisi tengah mengadakan penyelidikan.

Asisten pengasuh yang dituduh memukuli telah ditangkap dan polisi telah memeriksa rekaman CCTV yang menunjukkan dugaan penyiksaan.
Kasus ini menggemparkan Malaysia dan sejumlah orangtua menyerukan agar pengawasan sekolah-sekolah agama swasta dapat diperketat.
Federasi Asosiasi Lembaga Tahfiz Al-Quran Nasional -organisasi payung untuk berbagai pesantren, madrasah dan sekolah agama, pun bersuara.
Mereka mengatakan telah melihat rekaman CCTV yang menunjukkan bahwa anak laki-laki itu sedang dipukuli pada telapak kakinya.
Namun ketua organisasi tersebut, Mohd Zahid Mahmood, mengatakan kepada wartawan, masyarakat tidak perlu terburu-buru mengambil kesimpulan.
Dia mengimbau warga menunggu hasil penyelidikan pihak berwenang.

Sumber :
http://www.tribunnews.com/



Sejarah Kota Sabang, Kota Paling Ujung Barat Indonesia.

Hasil gambar untuk foto keindahan kota sabang
GunawanLaruhun - Sabang adalah kota yang terletak di Pulau Weh dan merupakan pintu gerbang di kawasan ujung barat Indonesia. Sabang memiliki luas 156,3 kilometer persegi dengan puncak tertinggi 617 meter di atas permukaan air laut. Karena terletak di Pulau Weh banyak orang yang menyebut Pulau Weh sebagai Pulau Sabang. Pulau Weh sendiri merupakan pulau utama dan terbesar yang terpisahkan dari daratan Aceh oleh Selat Benggala.

Dari segi geografis Indonesia, wilayah Kota Sabang berada pada 95°13'02"-95°22'36" BT, dan 05°46'28"-05°54'-28" LU, merupakan wilayah administratif paling utara, dan berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu Malaysia, Thailand, dan India.
Wilayah Kota Sabang dikelilingi oleh Selat Malaka di Utara, Samudera Hindia di Selatan, Selat Malaka di Timur dan Samudera Hindia di Barat.
Hasil gambar untuk foto keindahan kota sabang

Selain berbatasan langsung dengan 3 negara yaitu Malaysia, Thailand dan India, Sabang juga merupakan sebuah daerah yang sangat unik bagi Indonesia. Hal itu karena di sinilah Anda dapat menemukan tugu Nol Kilometer yang merupakan cikal bakal istilah, "Dari Sabang sampai Merauke".
Saat ini Sabang menjelma menjadi destinasi wisata bahari Indonesia yang menawarkan surga bagi para penyelam. Di sini Anda dapat menikmati alam bawah lautnya dengan menyelam untuk menemukan ratusan spesies ikan dan kekayaan terumbu karang alami yang bukan ditanam atau budidaya.
Perairan di Sabang merupakan tempat bertemunya Samudera Hindia dan Selat Malaka. Saat ini pun Sabang memperlengkapi atraksi wisatanya dengan penyelengaraan Sabang International Regatta.
Hasil gambar untuk foto keindahan kota sabang

Pesona Sabang menawarkan keelokan garis pantai yang indah, air laut nan biru dan bersih serta pepohonan nan hijau. Akan tetapi, bukan wisata bahari saja dapat ditemukan di Sabang. Ada gunung, danau, pantai, laut, serta hutannya yang masih alami dan terjaga menunggu dikunjungi. Belum lagi interaksi Anda dengan masyarakat setempat akan memberikan pengalaman yang berkesan.


Sabang merupakan kota kecil yang indah dengan struktur tanah berbukit-bukit sehingga warga setempat menyebut kota Sabang dengan dua nama yaitu kota bawah dan kota atas.
Sabang terdiri dari lima pulau besar dan kecil, yakni Pulau Weh sebagai pulau terbesar, Pulau Rubiah, Pulau Klah, Pulau Seulako, dan Pulau Rondo. Jumlah penduduknya sekitar 26.000 jiwa. Sabang terbagi ke dalam dua kecamatan dan 72 desa. Topografinya meliputi dataran rendah, tanah bergelombang, berbukit dan bergunung, serta batu-batuan di sepanjang pantai.
Perbatasan Sabang di sebelah timur adalah Selat Malaka, sebelah barat dengan Samudera Indonesia, sebelah utara dengan Selat Malaka, dan sebelah selatan dengan Samudera Indonesia.
Pada masa Kerajaan Aceh, wilayah Pulau Weh sendiri merupakan tempat pengusiran atau dipindahkan ”geupeuweh” bagi seseorang yang dikenakan hukuman berat dari kerajaan. Sebutan geupeuweh kemudian dilekatkan kepada nama pulau ini dan beriring dengan waktu kemudian pelafalannya menyingkat menjadi Weh dan diartikan sebagai pulau yang terpisah.

Hasil gambar untuk foto keindahan kota sabang

Kata "sabang" berasal dari bahasa Aceh yaitu "saban" yang berarti sama hak dan kedudukan dalam segala hal. Hal ini dikaitkan dengan keberadaan Sabang yang dulunya banyak didatangi pendatang dari luar untuk membuka kebun (seuneubĂ´k) atau usaha lainnya.
Pendatang tersebut berasal dari berbagai daerah dengan budaya yang berbeda, baik sikap, nilai, maupun adat istiadat. Lambat laun terjadi asimilasi dimana beragam perbedaan tersebut akhirnya memudar dan kedudukan mereka menjadi sama. Istilah saban ini telah lama melekat kepada Pulau Weh yang kemudian perlahan berubah penyebutannya menjadi "Sabang".
Sabang merupakan satu-satunya daerah Kerajaan Aceh yang bisa dikuasai penuh oleh Pemerintah Hindia Belanda. Sejak tahun 1881, Sabang ditetapkan sebagai pelabuhan alam yang disebut Kolen Station.
Pemerintah Hindia Belanda kemudian membangun berbagai sarana dan prasarana. Terutama setelah tahun 1887 saat Sabang Haven memperoleh kewenangan untuk membangun sarana penunjang pelabuhan.
Tahun 1895, Sabang menjadi daerah pelabuhan bebas Vrij Haven yang dikelola Sabang Maatschaappij (Maatschaappij Zeehaven en Kolen Station). Saat itu nama Sabang semakin populer di Nusantara maupun internasional sebagai pelabuhan sirkulasi perdagangan internasional.
Gambar terkait

Perang Dunia II telah menghancurkan Sabang hingga tahun 1942 diduduki Jepang dan menjadikannya sebagai basis maritim Angkatan Laut Jepang. Belum selesai perbaikan akibat perang, kerusakan fisik pulau ini semakin parah setelah Pasukan Sekutu membombardirnya sehingga membuat Sabang pun ditutup.





Aktifitas Pelabuhan Bebas dan Perdagangan Bebas Sabang pun mulai berdenyut dengan masuknya barang-barang dari luar negeri ke Kawasan Sabang. Akan tetapi, tahun 2004 Sabang kembali terhenti karena pemerintah pusat menetapkan status darurat militer bagi Aceh.
Pasca perjanjian damai antara Pemerintah RI dan GAM pada 15 Agustus 2005, Sabang kembali ramai. Pelabuhan Bebas Sabang kembali dibuka untuk mempecepat pembangunan ekonomi Aceh melalui hubungan ekonomi dengan luar negeri. Selain itu, beragam destinasi bahari dan keunikan budaya Aceh pun kembali diperkenalkan agar wisatawan berdatangan menikmati pesona keindahan pulau paling barat di Indonesia ini.

Sumber :
http://www.indonesia.travel/
http://www.kompas.com/
https://id.wikipedia.org/wiki/Halaman_Utama

Selasa, 25 April 2017

Selayang Pandang Tentang Kota Jayapura

Artikel ini saya buat agar kita  lebih jauh mengenal ribuan kota-kota yang tersebar di Republik Indonesia.yang Kita cintai, saya mulai dari Kota Jayapura sebagai penelusuran pertama. sebuah kota nan indah dan menawan hadir dari ujung timur Indonesia.

 Kota ini didirikan oleh Kapten Infanteri F.J.P Sachses dari kerajaan Belanda pada 7 Maret 1910. Dari tahun 1910 ke 1962, kota ini dikenal sebagai Hollandia dan merupakan ibu kota distrik dengan nama yang sama di timur laut pulau Papua bagian barat. Kota ini sempat disebut Kota Baru dan Sukarnopura ('Sukarnapura, 1964) sebelum memangku nama yang sekarang pada tahun 1968. Arti literal dari Jayapura, sebagaimana kota Jaipur di Rajasthan, adalah 'Kota Kemenangan' (bahasa Sanskerta: jaya yang berarti "kemenangan"; pura: "kota").



Kota Jayapura telah sejak lama bersentuhan dengan dunia luar. Hal ini ditunjukkan dengan adanya orang-orang yang pernah singgah di Tanah Papua seperti seseorang berbangsa Spanyol bernama Ynico Ortis De Fretes. Dengan kapalnya yang bernama "San Juan", Ynico berlayar pada tanggal 16 Mei 1545 dari Tidore ke Meksiko. Dalam perjalanan tersebut, rombongan Ynico tiba di sekitar muara sungai Mamberamo pada tanggal 16 Juni 1545 memberikan nama "Nova Guinea" kepada tanah Papua.
Sesudah Ortis de Fretes, muncul lagi pengarung-pengarung lain antara lain Alvaro Memdana Ne Neyra (1567) dan Antonio Ma (1591-1593)


Kata "Hollandia" berasal dari "Hol" = lengkung; teluk, "land" = tanah; tempat. Jadi Hollandia artinya tanah yang melengkung atau tanah / tempat yang berteluk. Negeri Belanda atau Holland atau Nederland - geografinya Kota Jayapura hampir sama dengan garis pantai utara negeri Belanda itu. Kondisi alam yang lekuk-lekuk inilah yang mengilhami Kapten Sachse untuk mencetuskan nama Hollandia - Kotabaru - Sukarnopura - Jayapura. Yang sekarang dipakai adalah "JAYAPURA"




Konon, penduduk asli Jayapura tidak berasal dari kota Jayapura yang kita ketahui sekarang. Ini berarti ada wilayah lain di luar Jayapura yang menjadi tempat asal leluhur penduduk Jayapura masa kini. Cerita ini bukanlah isapan jempol semata, tempat itu ada dan berada tidak jauh dari pusat kota Jayapura. Dengan waktu tempuh sekitar 20 menit menggunakan kendaraan bermotor menuju arah kota Abepura, terdapat sebuah teluk dengan pulau di tengahnya menjadi saksi asal usul nenek moyang penduduk asli Jayapura. Teluk ini adalah Teluk Youtefa dan pulau itu bernama Pulau Debi.

Irian Jaya

Irian Jaya difinitif kembali ke Indonesia 1 Maret 1963.
Sejak 1 Mei 1963 sampai sekarang, banyak sekali kemajuan dan perubahan yanng terjadi di Irian Jaya.
Terjadi perubahan dalam bidang pemerintahan, Ibu kota Kabupaten Jayapura dimekarkan menjadi Kota Administratif (kotif) Jayapura. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 26/1979 tanggal 28 Agustus 1979 tentang pembentukan Kota Administratif Jayapura.
Maka dengan ketentuan pelaksanaan Permendagri No. 5 tahun 1979 dan instruksi Mendagri No. 30 tahun 1979, Kota Jayapura pada hari Jumat, 14 September 1979, diresmikan sebagai Kota Administratif oleh Bapak Haji Amir Machmud, Menteri dalam Negeri Republik Indonesia.


Pada hari yang sama dilantik Drs. Florens Imbiri sebagai Walikota Jayapura oleh Bapak Haji Soetran, Gubernur KDH. Tingkat I Irian Jaya. Lokasi peresmian Kotif Jayapura adalah halaman kantor Dharma Wanita Provinsi Irian Jaya, Jl. Sam Ratulangi Dok 5 Atas
Jadilah Kota administratif yang pertama di Irian Jaya, dan yang ke 12 di Indonesia.
Walikota Administratif I Drs. Florens Imbiri 1979 – 1989.
Walikota Administratif II Drs. Michael Manufandu, MA 1989 - 1993.
Dan berdasarkan UU No. 6 Tahun 1993, Kota Administratif Jayapura diresmikan menjadi Kotamadya Dati II Jayapura oleh Bapak Mendagri Yogie S.M bertempat di lapangan Mandala Jayapura. Pada hari yang sama dilantik Drs. R. Roemantyo sebagai Walikota KDH. Tingkat II Jayapura.
Walikota KDH. Tingkat II Jayapura menyusun dan melengkap aparat, dinas otonom, dan dinas vertikal serta membentuk DPRD Kota.



Sesuai UU No. 5 tahun 1974 Walikota KDH Tingkat II Jayapura dipilih oleh DPRD Kota dan terpilih Drs. R. Roemantyo sebagai Walikota yang definitif periode 1994/19951998/1999.
Sekretariat Kota untuk pertama kali berkantor di Yoka menempati eks kompleks APDN di pinggir Danau Sentani. Setelah kantor baru berlokasi di Entrop selesai dibangun, pada bulan Juli 1998 kantor pindah ke Entrop di Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Disrik Jayapura Selatan.
Tongkat estafet pembangunan dilanjutkan oleh Bapak Drs. M.R. Kambu, M.Si sebagai Walikota Jayapura dan J.I. Renyaan, SH sebagai Wakil Walikota Jayapura periode 1999/2000 - 2004/2005.

Demikianlah artikel tentang seluk beluk kota Jayapura, semoga artikel ini bermamfaat bagi kita semua dalam memahami dan mengenal kota-kota di republik yang kita cintai ini, Indonesia. marilah kita jaga dan pertahankan keutuhan negara kita demi anak cucu kita kelak, serta kejayaan bangsa kita dimasa mendatang. tentunya dibawah payung Pancasila dan UUD 45. Terima kasih atas kunjungan anda di blog saya, salam NKRI, Merdeka !!!
Daftar Pustaka :
https://id.wikipedia.org/wiki/Halaman_Utama
https://www.indonesiakaya.com/